21.11.16

Teknologi Sabo

clip_image002
Salah satu bentuk teknologi SaBo (SaBo Dam)
SaBo berasal dari dua kata Jepang yaitu SA yang berarti pasir dan BO yang berarti pengendalian. SaBo adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengantisipasi aliran debris dan pengendalian sedimen dalam suatu bentang alam, khususnya sungai pada gunung. Ketika gunung mengeluarkan materialnya, material-material ini akan tertimbun di dalam suatu cekungan. Ketika hujan datang, sediment yang ada dalam cekungan ini akan mengalami pengangkatan oleh air dan selanjutnya mengalir bersama aliran air sungai. Aliran air sungai yang dimuati oleh material-material (debris) ini akan menghancurkan makhluk hidup dan infrasturktur yang dilaluinya. Ada kalanya air sungai yang dimuati oleh debris ini meluap dan membuat erosi lateral terhadap lembah sungai. Jika ini terjadi, berbagai kerugian yang dialami masyarajat sekitar sungai akan sangat besar. Maka dari, itu teknologi SaBo diterapkan untuk mengantisipasi berbagai permasalahan yang ditimbulkan oleh aliran debris ini.
Di Indonesia, teknologi SaBo, atau yang sering disebut dengan SaBo Dam ini sudah dikembangkan sejak tahun 1970. Teknologi SaBo sendiri ditemukan oleh orang Jepang, yakni Tomoaki Yokota. Dengan ditemukannya SaBo, maka kehidupan manusia semakin terjaga.
Dalam bahasa lainpun kata SABO ini susah diterjemahkan secara singkat. Misalnya dalam bahasa Jerman, SaBo diterjemahkan menjadi Wildbachverbauung yang berarti mengukur untuk menanggulangi efek merusak dari banjir, dalam hal ini tidak menyinggung tanah longsor.
BENCANA ALAM SEDIMEN
Bencana alam sediment adalah bencana alam yang sebab dan akibatnya berkaitan dengan proses-proses sedimentasi. Bencana sediment banyak ditemui di daerah-daerah yang dikenai oleh gaya kenaikan tanah seperti gunung dan bukit. Bencana ini akan meluruhkan material-material di suatu tempat, dan mengendapkannya di tempat yang lain. Proses sedimentasi tidak berlangsung lama, namun dalam waktu yang cukup singkat. Adanya proses sedimentasi ini selalu diikuti oleh proses transportasi material. Biasanya proses transportasi yang aktif terjadi pada bencana alam sediment adalah proses erosi. Ada beberapa macam bencana alam sediment, antara lain:
1. BANJIR LAHAR
Banjir dapat terjadi pada bagian hulu maupun hilir sungai. Bencana banjir pada bagian hulu sungai dapat berupa banjir lahar. Selain lahar, letusan gunungapu juga mengeluarkan awan panas dan lava. Awan panas dan lava yang mengalir dapat membakar semua yang dilaluinya, seperti pohon, sawah, rumah, dan manusia. Jika awan panas dan lava ini bertemu dengan air hujan maka dapat menimbulkan banjir lahar.
Banjir lahar adalah suatu peristiwa overloadnya suatu sungai atau cekungan oleh material fluida yanga ada di dalam sungai atau cekungan tersebut. Banjir lahar terjadi pada saat suatu sungai atau cekungan terisi oleh material-material vulkanik. Karena adanya hujan, maka material-material ini akan bercampur dengan air hujan. Pada suatu titik tertentu, daerah ini akan mengalami jenuh air sehingga terjadi overload. Luruhan air dan bahan vulkanik ini akan mengalir mencari titik keseimbangan antara gaya material dan gaya medan. Tidak jarang pula banjir ini akan menghancurkan lahan perkebunan dan perumahan warga sekitar. Banjir lahar biasanya terjadi di dekat puncak dan lereng gunung.
2. TANAH LONGSOR (SLOPE FAILURE)
Tanah longsor adalah luruhnya tanah / batuan pada suatu kenampakan alam yang miring dengan kemiringan lebih besar dari 30°. Tanah longsor berlangsung sagat cepat. Tanah longsor akan menimbun semua infrastruktur yang ada di daerah jatuhnya tanah. Ada beberapa jenis longsoran antara lain, rock slide yaitu longsoran massa batuan yang menuruni lereng, sedangkan bila yang longsor adalah bahan rombakan disebut debris slide. Tanah longsor dapat terjadi secara vertical atau hampir vertical yang disebut rock fall jika yang longsor adalah massa batuan, sedangkan bila yang longsor adalah hancuran massa batuan disebut debris fall. Klasifikasi ini juga dapat digunakan pada tanah gerak. Tanah longsor yang gerakannya terputus-putus pada jarak yang pendek disebut slumping.
Tanah longsor mempunyai dua pemicu utama, yaitu curah hujan dan getaran tanah. Dengan curah hujan yang tinggi maka tanah akan menjadi jenuh air dan akan mempermudah terjadinya longsor. Selain itu, air hujan juga dapat memperlicin bidang gelincir longsor. Getaran tanah akibat gempa bumi juga dapat mempermudah pergerakan tanah labil menjadi longsor. Getaan tanah akan menganggu kestabilan dan konsistensi tanah. Dengan adnaya gangguan ini, tanah akan ‘terkoyak’ dan kmeudian terjadi longsor.
Beberapa indikasi terjadinya tanah longsor antara lain:
ü Tanah atau bukit bergetar
Jika hal ini terjadi, tanah yang labil pada suatu daerah dengan kemiringan lereng yang cukup tinggi akan sangat mudah untuk longsor karena getaran tanah dapat mempercepat terjadinya longsor (bahsan diatas).
ü Air sumur mengeruh
Air sumur yang menjadi keruh menandakan adanya infiltrasi tanah ke dalam air bawah tanah. Dengan demikian, tanah mengalami penurunan elevasi dan akan terjadi longsor untuk mencari titik keseimbangan baru.
ü Air tanah keluar secara tiba-tiba
Karena adanya tekanan pada saat akan terjadi tanah longsor maka air bawah tanah akan tertekan dan keluar melalui retakan yang ada di permukaan bumi.
ü Tanah retak-retak
Bila tanah mengalami keretakan dalam kurun waktu tertentu, hal ini memberikan kemungkinan akan terjadinya tanah longsor.
3. TANAH GERAK (LANDSLIDE)
Tanah gerak terjadi pada areal luas dengan kemiringan lereng yang kecil. Biasanya gergerak secara perlahan. Tanah gerak adalah berpindahnya massa tanah atau batuan pada kenampakan alam miring dengan kemiringan lebih kecil dari 30°. Adanya lapisan lempung atau lapisan tanah yang sulit ditembus oleh air akan menimbulkan terkumpulnya air yang meresap ke dalam tanah. Karena ada genangan air pada tanah dalam yang dapat meresap air, maka pada suatu titik tertentu akan tiba pada titik jenuh air. Ketika tanah jenuh air, tanah menjadi berat dan tidak bisa mengimbangi gaya yang dihasilkan. Kemudian, terjadi gerakan massa tanah.
Gejala-gejala yang terjadi sebelum bencana sedimen datang antara lain:
  • Tanah dan bukit bergetar.
  • Tanah retak-retak.
  • Kerikil dari tebing berjatuhan.
  • Masih hujan, tetapi air sungai surut.
  • Pohon and ranting hanyut di sungai.
  • Air sumur mengeruh.
  • Air tanah keluar secara tiba-tiba.
4. ALIRAN DEBRIS
Aliran debris adalah suatu aliran massa yang berupa campuran antara air ddengan konsentrasi yang sangat tinggi. Aliran ini dimulai karena keseimbangan static antara gaya geser yang ditimbulkan lebih besr dari gaya geser yang menahan, maka jumlah massa yang mengalir, ketinggian serta kecepatannya akan selalu bertambah. Pada tingkat tertentu karena kondisi batas setempat, misalnya perubahan kemiringan yang menjdi landai, berkurangnya massa air, perubahan karakter sediment dan lain sebagainya, proses aliran ini akan mengalami perlambatan, jumlah massa yang mengalir berkurang, sejumlah massa akan diendapkan.
Pergerakan massa sediment dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis antara lain longsoran, aliran debris (galodo), aliran transisi antara aliran debris dan aliran individu atau yang disebut dengan aliran hiper konsentrasi. Longsoran masuk dalam kategori sebagai gerakan massa tetapi mempunyai dinamika khusus.
Penyelidikan maslah aliran debris ataupun aliran sediment konsentrasi tinggi telah diamati di berbagai Negara dimana aliran debris sering terjadi dengan menggunakan automatic video recorder dan sediment sampling. Data lapangan ini telah memberikan sumbangan yang besar dalam pemahaman debris flow, namun karakteristik dan mekanisasi aliran debirs belum dapat ditangkap secara sempurna.
PERENCANAAN PEMBUATAN SABO DAM
Sebelum dilakukan pembangunana SaBo Dam, perlu dilaksanakannya sebuah survei. Survei dalam perencanaan pembangunan SaBo dimaksudkan untuk memperoleh data, baik data lapangan kegiatan perencanaan bangunan pengendali sedimen secara keseluruhan. Selai itu, survei juga digunakan sebagai perbandingan kelayakan suatu bangunan SaBo terhadap bentang alam yang ada, apakah SaBo tersebut layak atau tidak. Dalam melakukan survei, ada tiga aspek yang diperlukan:
  1. Fenomena alam.
Hal ini mencakup karakteristik sedimen, struktur media, sumber sedimen, kondisi hidrologi setempat, dan catchment area.
  1. Status sosial ekonomi wilayah
Hal ini mencakup bagaimana pandangan terhadap daerah yang dilindungi dan pandangan dari pengembangan wilayah setempat.
  1. Tingkat efektifitas bangunan SaBo
Hal ini mencakup efektifitas bangunana yang sudah ada sebelumnya dan bencana banjir sedimen atau debris yang pernah terjadi.
Dalam perencanaan pembangunan SaBo, perlu diperhatikan estimasi volume sedimen yang akan ditimbulkan oleh aliran debris. Dalam hal ini, perlu adanya konsep-konsep fisika yang berkaitan dengan tekanan dan gaya. Perancangan bangunan SaBo juga harus diperhatikan dengan teliti supaya SaBo Dam dapat bekerja dengan baik dan bertahan dalam waktu yang lama.
LEMBAGA SABO di INDONESIA
Karena pengembangan SaBo sudah cukup lama, yakni pada tahun 1970, maka berbagai lembaga yang menangani SaBo sudah tersebar di berbagai tenpat di Indonesia. Salah satu lembaga yang berkaitan dengan pengembangan SaBo di Indonesia adlah SaBo Technical Centre yang ada di Yogyakarta. Lembaga ini bernaung dibawah Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Berikut adalah informasi seputar balai SaBo di Indonesia.
Departemen Pekerjaan Umum
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air
Direktorat Sungai Danau dan Waduk
Satker Pembinaan Pelaksanaan Teknis Sungai Danau dan Waduk
Kelompok Kerja Penanganan SABO
PROFIL
Balai SaBo adalah unit pelaksana dalam bidang penelitian dan pengembangan TEKNOSABO berda dibawah dan bertanggung jawab kepada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air Badan Litbang PU Departeman Pekerjaan Umum.
VISI
Menjadikan Balai SaBo sebagai pusat rujukan (scientific backbone) dan Pusat Informasi bidang Teknologi SaBo dan penanggulangan bencana alam sediment di Indonesia.
MISI
· Meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan litbang dalam teknologi SaBo dan penanggulangan bencana alam sedimen
· Meningkatkan kegiatan penyebarluasan hasil dan penerapan hasil litbang teknologi SaBo dan penanggulangan bencana alam sedimen.
· Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia daerah teknologi SaBo dan penanggulangan bencana alam sedimen di Indonesia melalui pendidikan dan pelatihan.
· Meningkatkan bimbingan teknis kepada unit SaBo diwilayah bencana alam sedimen di Indonesia.
· Meningkatkan kerja sama ilmiah dengan instansi terkait masalah penanggulangan bencana alam sedimen.
TUGAS POKOK
Melaksanakan layanan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pengaplikasian teknologi, teknologi SABO, pengujian dan penyiaopan saran teknis (engineering advice) untuk penanggulangan bencana alam akibat gerakan masa debris.
FUNGSI
· Pengumpulan, pengolahan dan penyajian data SaBo.
· Pelitian dan pengembangan serta pengujian di laboratorium dan lapangan.
· Penyusunan program pelayanan teknis penelitian dan pengembangan.
· Pemberian saran teknis dan perekayasaan serta penunjangan ilmiah bidang TeknoSaBo.
· Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.
KARAKTERISTIK SABO DAM
clip_image003
SaBo Dam merupakan bendungan yang digunakan untuk menampung aliran sedimen / aliran debris. Secara umum, bentuk SaBo Dam adalah seperti di atas, yaitu mempunyai ketinggian yang berbeda di tengah bendungan. Hal ini dimaksudkan sebagai jalan air. Aliran sedimen akan tertampung oleh bendungan, tetapi air tetap mengalir. Jika suatu bendungan tidak mampu membendung semua aliran debris maka aliran akan dilewatkan melaui atas bendungan. Aliran debris yang masih mengalir akan ditampung oleh bendungan lain yang ada di bawah bendungan yang sudah penuh akan debris. Hal ini berlangsung terus menerus sesuai dengan jumlah bendungan yang ada.
clip_image004
Contoh aliran debris dan bentukan sedimen oleh SaBo Dam
clip_image006
Gambar diatas menunjukkan sebuah kenampakan lahan miring beserta bendungan SaBo. Aliran debris akan mengalir dimulai dari hillside atau hilltop. Aliran debris akan mengalir bersama dengan aliran sungai. Maka dari itu, pada bagian hulu sungai, aliran debris akan sangat besar. Setelah aliran debris mengalir pada hulu sungai, aliran akan terus mengalir sejalan dengan garis sungai. Dalam hal ini, SaBo Dam diletakkan baik secara tunggal maupun secara seri pada badan-badan sungai. Ketika aliran debris datang pada SaBo Dam tersebut, debris akan tertahan dan diendapkan oleh bendungan SaBo sehingga aliran sungai hanya akan berisi sungai dan material-material kecil lainnya ketika sampai di groundsills atau bagian yang padat penduduk (biasanya di hilir sungai bagian ujung).
clip_image007 clip_image008
Suatu rancangan SaBo Dam
Bagian-bagian Sabo
  • Bendung Pengendali Sedimen (Sabo Dam)
  • Bendung Pengendali Dasar Sungai (Groundsill)
  • Kantong Pasir (Sand Pocket)
  • Kanal (Chanel Work)
  • Bendung Multiguna (Multi Purpose)
  • Irigasi (Irrigation)
  • Mikrohidro (Micro hydro)
  • Berfungsi sebagai jembatan (submerged bridges)
Agar terhindar dari bencana alam sedimen, jangan lakukan hal-hal berikut ini:
1. Menggunduli hutan sembarangan
2. Membakar hutan
3. Memotong tebing atau menggali tanah tepinya
4. Membuat kolam dan mencetak sawah berair di lereng yang terjal
5. Membangun rumah di tepi atas atau bawah tebing terjal
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Belajar dan hafalkan cara mengungsi.
2. Perhatikan curah hujan. Kebanyakan bencana sedimen terjadi bersamaan dengan hujan. Kita harus berhati-hati kalau musim hujan tiba, curah hujan sampai 50 mm/jam atau banyaknya hujan mencapai lebih dari 100 mm.
3. Memeriksa tempat berbahaya. Menaruh peta di kantor Balai Desa yang menggambarkan tempat yang memungkinkan terjadinya bencana sedimen. Periksalah apakah tidak ada tempat yang berbahaya di sekitar rumah Anda.
4. Ingatlah tempat pengungsian. Bila terjadi bencana, kita belum tentu bersama dengan keluarga. Kalau tempat pengungsian sudah ditentukan sebelumnya, maka ketika terjadi bencana anggota keluarga bisa bertemu di tempat tersebut.
5. Ikutlah latihan pengungsian yang diadakan oleh Pemda. Ikutlah latihan pengungsian yan diadakan oleh Pemda, mempersiapkan barang-barang penungsian.





























































































NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner