k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Teori-teori Perwilayahan

Dalam perkembangan wilayah dikenal beberapa macam teori pertumbuhan. Pusat pertumbuhan ialah wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga karena kepesatannya itu dijadikan sebagai pusat pembangunan yang memengaruhi kawasan-kawasan lain di sekitarnya. Dengan adanya kawasankawasan yang dijadikan pusat pertumbuhan itu, diharapkan kawasan-kawasan di sekitarnya turut terpengaruh dan terpicu untuk maju.

Pertumbuhan wilayah berawal dari sebuah pusat pertumbuhan. Ada beberapa teori yang membahas tentang pusat pertumbuhan wilayah yaitu teori pusat sentral (central place theory) dan teori kutub pertumbuhan (growth pole theory)

Perkembangan wilayah diawali dengan munculnya pusat pertumbuhan. Pusat pertumbuhan dapat diartikan sebagai suatu wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan yang memengaruhi atau memberikan imbas terhadap kawasan-kawasan lain di sekitarnya. Melalui pengembangan kawasan pusat-pusat pertumbuhan ini, diharapkan terjadi proses interaksi dengan wilayah-wilayah lain di sekitarnya.

Pusat pertumbuhan yang muncul di suatu wilayah dipengaruhi oleh karakteristik wilayahnya. Perkembangan pusat pertumbuhan di suatu wilayah ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut:

1. Sumber daya Alam

Daerah yang mempunyai kekayaan sumber daya alam berpotensi menjadi pusat pertumbuhan. Sebagai contoh, penambangan bahan tambang yang bernilai ekonomi tinggi di suatu wilayah merangsang kegiatan ekonomi, memberikan kesempatan kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah serta berpengaruh terhadap munculnya kegiatan ekonomi penunjang

2. Sumber daya manusia

Sumber daya manusia sangat berperan dalam pembentukan pusat pertumbuhan di suatu wilayah. Tenaga kerja yang ahli, terampil, andal, kapabel dan profesional dibutuhkan untuk mengelola sumber daya alam. Pusat pertumbuhan akan berkembang dan pembangunan berjalan lancar apabila tersedia sumber daya manusia yang andal.

3. Kondisi fisiografi/lokasi

Kondisi fisiografi/lokasi memengaruhi perkembangan pusat pertumbuhan. Lokasi yang strategis memudahkan transportasi dan angkutan barang, sehingga pusat pertumbuhan berkembang cepat. Sebagai contoh, daerah dataran rendah yang berelief rata memungkinkan pusat pertumbuhan berkembang lebih cepat dibanding daerah pedalaman yang berelief kasar atau berpegunungan.

4. Fasilitas Penunjang

Pusat pertumbuhan akan lebih berkembang apabila didukung oleh fasilitas penunjang yang memadai. Beberapa fasilitas penunjang antara lain jalan, jaringan listrik, jaringan telepon, pelabuhan laut dan udara, fasilitas air bersih, penyediaan bahan bakar, serta prasarana kebersihan.

1. Teori Tempat Sentral (Central Place Theory)

Central Place theory dikemukakan oleh Walter Christaller pada tahun 1933. Teori ini menyatakan bahwa suatu lokasi dapat melayani berbagai kebutuhan  yang terletak pada suatu tempat yang disebutnya sebagai tempat sentral. Tempat sentral tersebut memiliki tingkatan-tingkatan tertentu sesuai kemampuannya melayani kebutuhan wilayah tersebut. Bentuk pelayanan tersebut digambarkan dalam segi enam/heksagonal.

Teori ini berlaku apabila memiliki karakteristik sebagai berikut

a. wilayahnya datar dan tidak berbukit

b. tingkat ekonomi dan daya beli penduduk relatif sama

c. penduduk memiliki kesempatan yang sama untuk bergerak ke berbagai arah

Teori Cristaller bertitik tolak dari letak perdagangan dan pelayanan dalam sebuah kota seperti rumah sakit, sekolah, bank, dan sebagainya. Semakin besar pusat pelayanan atau perdagangan semakin luas penduduk yang dapat dilayani. Sebaliknya semakin kecil semakin sedikit penduduk yang dilayani.

teori tempat sentral

Water Christaller (dalam Nurmala Dewi, 1997), ahli geografi berkebangsaan Jerman, mengatakan bahwa sebagai kawasan yang berpengaruh luas terhadap wilayah-wilayah di sekitarnya, pusat pertumbuhan dapat dicitrakan dengan titik-titik simpul yang berbentuk geometris heksagonal (segi enam). Wilayah segi enam itu merupakan wilayah-wilayah yang penduduknya terlayani oleh tempat sentral yang bersangkutan. Tempat-tempat sentral yang dimaksud dapat berupa pusat-pusat perbelanjaan, kota, atau pun pusat-pusat kegiatan lainnya. Oleh tempat-tempat sentral itu, wilayah atau tempat-tempat lain di sekitarnya akan tertarik.

Misalnya, ibukota provinsi dapat menarik beberapa kota atau ibukota kabupaten, ibukota kabupaten menarik beberapa kecamatan, dan seterusnya secara hierarkis. Ditinjau dari luas kawasan pengaruhnya, hierarki sentral dibedakan atas:

(1) tempat sentral berhierarki tiga (k = 3),

(2) tempat sentral berhierarki empat (k = 4), dan

(3) tempat sentral berhierarki tujuh (k = 7).

Konsep dasar dari teori tempat sentral sebagai berikut.

1) Population threshold, yaitu jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk melancarkan dan kesinambungan dari unit pelayanan.

2) Range (jangkauan), yaitu jarak maksimum yang perlu ditempuh penduduk untuk mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkannya dari tempat pusat. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

a) Range selalu lebih besar dibanding daerah tempat population threshold.

b) Inner limit (batas dalam) adalah batas wilayah yang didiami population threshold.

c) Outer limit (batas luar) adalah batas wilayah yang mendapatkan pelayanan terbaik, sehingga di luar batas itu penduduk akan mencari atau pergi ke pusat lain.

a. Tempat Sentral Berhierarki Tiga

tempat sentral hierarki 3

Tempat sentral berhierarki tiga adalah pusat pelayanan yang berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang bagi kawasan-kawasan di sekitarnya (kasus pasar yang optimum atau asas pemasaran).

k = 3 = 6 (31) + 1

(k = 3) diperoleh dari penjumlahan kawasan

tempat yang sentral

Keterangan

(1) dengan satu pertiga

(31) bagian kawasan yang ada di sekelilingnya yang jumlahnya ada enam

(6) Untuk membangun lokasi pasar ataupun fasilitas umum lainnya, sekurang-kurangnya harus di kawasan yang diperkirakan dapat berpengaruh terhadap 31 penduduk dari keenam kawasan yang ada di sekitarnya.

Sebagai penunjangnya, maka dalam pembangunan lokasi tersebut perlu memperhatikan:

1) jalan beserta sarana angkutannya,

2) tempat parkir, dan

3) barang yang diperjualbelikannya.

b. Tempat Sentral Berhierarki Empat

Tempat sentral hierarki empat

 

Tempat sentral berhierarki empat merupakan pusat sentral yang memberikan kemungkinan rute lalu lintas yang paling efisien situasi lalu lintas yang (k = 4) diperoleh dari penjumlahan kawasan tempat sentral (1) dengan setengah (½) bagian kawasan yang ada di sekitarnya, yang berjumlah enam (6).

keterangan

k = 4

= 6 (½) + 1

Penempatan lokasi terminal kendaraan sekurang-kurangnya harus memiliki kawasan pengaruh setengah dari enam kawasan tetangganya. Dengan demikian, terminal harus berada pada tempat yang mudah dijangkau oleh para pemakai jasa angkutan yang secara sentral memiliki radius relatif sama ke segala arah.

c. Tempat Sentral Berhierarki Tujuh

Tempat sentral hierarki 7

Tempat sentral berhierarki tujuh dinamakan juga situasi administratif yang optimum atau asas administratif, yaitu tempat sentral yang memengaruhi seluruh bagian wilayah tetangganya. Situasi administratif yang dimaksud dapat berupa kota pusat pemerintahan.

Keterangan

k = 7

= 6 (1) + 1

(k = 7) diperoleh dari penjumlahan kawasan tempat sentral (1) dengan satu (1) bagian kawasan sekitarnya, yang berjumlah enam (6). Tempat yang sentral dari pusat kegiatan administratif pemerintahan pada hierarki tujuh (k = 7) merupakan kawasan yang luas jangkauannya. Kawasan tersebut harus mampu menjangkau dan dijangkau kawasan yang berada di bawah kekuasaannya. Lokasinya berada di wilayah yang beradius relatif sama dari semua arah, berada pada rute kendaraan umum yangterjangkau semua arah. Dengan begitu, diharapkan tidak menimbulkan kecemburuan sosial di antara warganya.

Teori Walter Christaller dapat diterapkan secara baik di suatu wilayah dengan syarat-syarat sebagai berikut.

· Topografi dari wilayah tersebut relatif seragam, sehingga tidak ada bagian yang mendapat pengaruh lereng atau pengaruh alam lainnya dalam hubungannya dengan jalur angkutan.

· Kehidupan atau tingkat ekonomi penduduk relatif homogeny dan tidak memungkinkan adanya produksi primer yang menghasilkan padi-padian, kayu, atau batu bara.

2. Teori Kutub Pertumbuhan Growth Pole Theory

Teori ini dikembangkan oleh ahli ekonomi Perancis Francois Perroux pada tahun 1955. Inti dari teori ini menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di tiap daerah tidak terjadi di sembarang tempat melainkan di lokasi tertentu yang disebut kutub pertumbuhan. Untuk mencapai tingkat pendapatan tinggi harus dibangun beberapa tempat pusat kegiatan ekonomi yang disebut dengan growth pole (kutub pertumbuhan). Pandangan Perroux mengenai proses pertumbuhan adalah teori tata ruang ekonomi, dimana industri pendorong memiliki peranan awal dalam membangun sebuah pusat pertumbuhan. Industri pendorong ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut

1. Tingkat konsentrasi tinggi

2. Tingkat Teknologi Maju

3. Mendorong perkembangan industri di sekitarnya

4. Manajemen yang professional dan modern

5. sarana dan prasarana yang sudah lengkap

Kutub pertumbuhan dapat di tafsirkan dalam dua pengertian,yaitu secara fungsional dan secara geografis. Penafsiran secara fungsional menggambarkan kutub pertumbuhan itu sebagai suatu kelompok perusahaan, cabang industri, atau unsur-unsur dinamik yang meningkatkan kehidupan ekonomi

Di sekitar kutub geografis, pertumbuhan industri-industri yang menonjol dan kegiatan-kegiatan yang mempunyai keterkaitan dengan industri-industri tersebut lebih pesat dari pada di lokaassi-lokasi lainnya, dan selanjutnya dari kutub tersebut manfaatnya akan menyebar ke seluruh pelosok wilayah.

Tiga ciri penting dari konsep kutub pertumbuhan dapat adi kemukakan, yaitu:
1.      Terdapat keterkaitan internal antara berbagai industrii secara teknik dan ekonomi
2.      terdapat multipler
3.      terdapat konsentrasi geografis

Beberapa contoh kawasan yang merupakan pusat pertumbuhan, antara lain kota Jakarta – Bogor – Tangerang – Bekasi atau Jabotabek, pusat industri Batam, segitiga pertumbuhan Singapura – Johor – Riau atau segitiga SIJORI, dan sebagainya.

Contoh lain adalah industri baja di suatu daerah akan menimbulkan kekuatan sentripetal, yaitu menarik kegiatan-kegiatan yang langsung berhubungan dengan pembuatan baja, baik pada penyediaan bahan mentah maupun pasar. Industri tersebut juga menimbulkan kekuatan sentrifugal, yaitu rangsangan timbulnya kegiatan baru yang tidak berhubungan langsung dengan industri baja.

Growth Pole TheoryJakarta Pusat Pertumbuhan

 

3. Beberapa Pengaruh Pusat Pertumbuhan

Dengan adanya pusat-pusat pertumbuhan itu, ternyata memberikan pengaruh dan manfaat bagi manusia dalam segala aspek kehidupannya. Pengaruh-pengaruh dan manfaat tersebut adalah sebagai berikut.

1) Pengaruh terhadap pemusatan dan persebaran sumber daya, antara lain:

a) pola mobilitas penduduk meningkat,

b) teknologi dan transportasi semakin meninggi.

2) Pengaruh terhadap perkembangan ekonomi, antara lain:

a) meningkatkan kondisi ekonomi penduduk sehingga kesejahteraan dan kualitas hidupnya lebih baik,

b) menjadikannya sebagai pusat perdagangan.

3) Pengaruh terhadap perubahan sosial budaya masyarakat,antara lain:

a) pendidikan penduduk semakin meningkat.

b) masuknya budaya asing atau budaya luar sehingga timbulnya asimilasi budaya di masyarakat.

Related Posts

Related Posts