k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK
Bookmark

Apa itu Deterjen?

deterjen
Deterjen

Deterjen adalah istilah yang biasa digunakan terhadap berbagai macam bahan pembersih  atau bahan yang memiliki    kemampuan   untuk    membersihkan. Deterjen banyak dipakai untuk menghilangkan kotoran  dari pakaian, alat-alat makan dan lain-lain (Sawyer, 1994). Kandungan dasar deterjen adalah materi organik yang dapat menurunkan tegangan permukaan dan membentuk jembatan antara kotoran dengan senyawa pelarut sehingga terbentuk busa (Kao Corporation, 1983).

Deterjen adalah zat yang persisten karena tidak dapat diuraikan dalam jangka waktu yang lama di kondisi perairan alami. Karena tidak terdapat mekanisme alami yang dapat menguraikan zat tersebut, maka akan terjadi akumulasi dalam badan air maupun organisme air. Deterjen menimbulkan kesulitan dalam pengolahan air (Slamet, 1994).

Deterjen dapat menurunkan efisiensi pada tangki sedimentasi dan menghambat kerja pada unit penyisihan lemak sehingga menghambat proses pengolahan air buangan. Akibat adanya deterjen, zat terlarut dan lemak yang seharusnya tersisihkan dalam kedua unit tersebut dapat terus berada dan terakumulasi dalam air (Sawyer, 1994). Keberadaan deterjen dalam air minum tidak diinginkan karena menimbulkan bau, rasa yang tidak enak, dan gangguan kesehatan.

Deterjen memiliki struktur kimia yang terdiri dari ujung karbon hidrofobik dan ujung sulfat sehingga dapat mengemulsi lemak dengan demikian deterjen  memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengikat kotoran. Hal inilah yang menyebabkan deterjen lebih disukai daripada sabun sebagai bahan pembersih.

Berdasarkan bahan bakunya terdapat dua kategori deterjen, yaitu:

1. Sabun terbuat dari lemak alam dan minyak

Deterjen jenis ini terbuat dari lemak alami berbentuk garam alkali dari asam lemak dengan rumus molekul yang tinggi, jumlahnya mencapai 90% paket deterjen. (Weaver, 1960 dikutip dari Roshida, 2003). Pembuatannya dilakukan dengan proses saponifikasi, yaitu proses hidrolisa istimewa dengan menggunakan NaOH sebagai alkali untuk menetralkan asam lemak yang terbentuk (Sawyer, 1994). Di dalam air lemak alami tersebut akan bereaksi dengan molekul air sehingga terhidrolisa. Ketika sabun digunakan dalam air sadah yang mengadung Ca dan Mg, akan terbentuk buih yang merupakan garam logam yang tidak larut dalam air (JETRO, 1982). Karakter sabun juga ditentukan oleh jenis lemak yang digunakan. Lemak sapi dan minyak biji katun dipakai untuk memproduksi sabun tingkat rendah, sedangkan minyak kelapa digunakan untuk sabun mandi (Sawyer, 1994).

2. Deterjen sintetik terbuat dari petroleum

Deterjen jenis ini terbuat dari minyak mineral (paraffin sintetik dari batu bara atau petroleum) dan memiliki kekuatan yang lebih besar dalam mengemulsi kotoran karena mengandung bahan-bahan tambahan lainnya. Deterjen sintetik ini lebih menguntungkan karena tidak membentuk endapan yang terlarut dengan ion sadah, menimbulkan buih yang lebih banyak, dan mempunyai daya cuci yang besar. Ada dua tipe deterjen sintetik, yaitu deterjen keras yang bersifat persisten selama beberapa hari dan deterjen lunak yang dapat terurai dalam dua hari.

Deterjen adalah produk yang  paling banyak menggunakan surfaktan sehingga sering terjadi salah kaprah yang menyatakan bahwa surfaktan adalah deterjen. Hal tersebut tidak benar karena selain mengandung surfaktan sebagai komponen utama dalam deterjen juga terdapat bahan-bahan lain berupa zat pembentuk (Builder), Filler dan zat additives.


Posting Komentar

Posting Komentar