k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Curah Hujan

Curah hujan adalah salah satu bentuk dari presipitasi dalam bentuk titik air yang berukuran diameter antara 1 hingga 5 mm. Syarat untuk terjadinya awan dan hujan adalah tersedianya moisture yang cukup untuk kondensasi, terjadinya proses pendinginan untuk mencapai kondensasi dan tersedianya nukleous kondensasi untuk terjadinya hujan. Inti kondensasi yang baik berupa garam dapur hasil proses evaporasi dari lautan. 

curah-hujan
Curah Hujan

Ukuran moisture yang cukup untuk kondensasi ditentukan oleh kelembapan udara. Agar uap air yang ada mengalami  proses pendinginan maka harus terjadi kontak dengan permukaan yang dingin ataupun proses pengangkatan udara yang dipengaruhi oleh topografi dan gerakan dinamis udara. Proses pengangkatan massa udara ada 4 yaitu orografis, frontal, konvergen dan konveksi. Dan biasanya jenis-jenis hujan dinamai seperti nama proses pengangkatannya sehingga kita kenal hujan orografis, hujan frontal, hujan konvergen dan hujan konveksi (proses terjadinya pengangkatan dapat dilihat dalam kotak)

Hujan yang turun di suatu tempat dan suatu waktu akan berbeda satu sama lain. Secara geografis, faktor-faktor yang mempengharuhi variari curah hujan antara lain : a) garis lintang;  b) ketinggian tempat; c) jarak dari sumber air; d) posisi dan ukuran benua; e) hubungannya dengan deretan gunung dan pegunungan; dan f) suhu permukaan tanah dan lautan yang berdekatan. Secara meteorologi, radiasi matahari, suhu udara, kelembapan, arah dan kecepatan angin turut berpengaruh terhadap curah hujan yang turun di suatu wilayah. 

McBride (1992) dan Tapper (2000), keduanya dalam Kirono (2004) menjelaskan berbagai factor yang mempengaruhi kondisi iklim, khususnya curah hujan, di Indonesia. Faktor dan proses tersebut berlaku pada skala waktu dan skala ruang yang berbeda dan menentukan karakter hujan seperti jumlah, distribusi musiman, intensitas dan keragaman atau variabililitasnya.

Faktor yang berskala harian, yaitu meso-scale influences, kebanyakan berhubungan dengan karakteristik topografi yang dimilki oleh permukaan bumi Indonesia. Contoh faktor ini adalah adanya angina darat/laut dan fhoen effect yang secara lokal sering disebut dengan istilah angin Bahorok (di Sumatera), angin Kumbang ( di Jawa Barat) dan angin Gending (di Jawa Timur).

Pada skala musiman, faktor yang paling dominan adalah Monsun (Monsoon). Secara singkat, monsoon dapat diartikan sebagai angina skala regional yang arah hembusannya berbeda atau berubah sedikitnya dalam suatu tahun (McGregor dan Niewolt, 1998). Di atas permukaan Indonesia, angin ini berhembus dari timur laut pada sekitar bulan Juni hingga  September dan berhembus dari barat daya pada sekitar bulan Desember hingga Maret. Perbedaan ini menimbulkan adanya dua musim yang dialami oleh Indonesia, yaitu musim kemarau dan musim hujan.

Secara umum hujan di Indonesia dibagi dalam tiga tipe yaitu tipe monsunal, tipe ekuatorial dan tipe lokal (Bayong, 1999). Karakteristik curah hujan jenis monsunal adalah distribusi curah hujan bulanan berbentuk V dengan jumlah curah hujan minimum pada bulan Juni, Juli atau Agustus. Saat monsun barat, jumlah curah hujan berlimpah, sebaliknya pada monsun timur, jumlah curah hujan sangat sedikit. Daerah yang mempunyai curah hujan jenis monsun sangat luas terdapat di Indonesia. Distribusi curah hujan bulanan mempunyai dua maksimum merupakan karakteristik curah hujan tipe ekuatorial. Jumlah curah hujan maksimum terjadi setelah ekinoks. Contoh daerah yang mempunyai curah hujan tipe ini adalah Padang dan Pontianak. Tipe curah hujan yang satu lagi yaitu lokal mempunyai distribusi curah hujan bulanan kebalikan dari jenis monsun. Curah hujannya lebih banyak dipengaruhi oleh sifat lokal. Contoh daerahnya adalah Ambon

Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts