k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Batas Lempeng Divergen dan Pungungan Tengah Samudra

Batas – batas lempeng



Karena masing – masing lempeng bergerak sebagai suatu unit tersendiri, maka semua interaksi antar lempeng – lempeng terjadi di sepanjang batas – batasnya. Perkiraan tentang batas lempeng ini pertama kali dilakukan berdasarkan aktivitas gempa bumi dan gunung api. Sejauh ini hasil penelitian menunjukkan terdapatnya tiga jenis lempeng. Batas – batas itu adalah :

  1. Batas Divergen, zona batas lempeng dimana lempeng – lempeng bergerak saling menjauh, meninggalkan suatu celah atau “gap” di antaranya.
  2. Batas Konvergen, zona batas lempeng dimana lempeng – lempeng saling mendekat, mengakibatkan salah satu diantaranya menunjam ke bawah ke dalam mantel.
  3. Batas Transform, zona batas lempeng dimana lempeng – lempeng bergerak saling berpapasan, menyebabkan penghancuran dan deformasi disisi tempat mereka bergesekan.

Batas Divergen

Batas Divergen adalah zona batas lempeng dimana lempeng – lempeng bergerak saling menjauh, meninggalkan suatu celah atau “gap” di antaranya. Pemekaran atau divergensi lempeng terjadi di sepanjang punggungan tengah samudera. Begitu lempeng memisah, celah yang terbentuk langsung diisi oleh batuan pijar (lava) yang keluar dari astenosfer yang panas. Material ini membeku di atas laut menghasilkan lantai samudera yang baru. Makin lama celah tadi bertambah lebar memperluas lantai samudera yang terletak diantara ke dua lempeng yang trepisah tadi.


Mekanisme ini seperti yang telah menghasilkan lantai Samudera Atlantik selama 160 juta tahun silam, disebut sebagai “pemekaran lantai samudera” . Laju atau kecepatan pemekaran ini diestimasikan sekitar 5 cm/thn. Walaupun kecepatan ini sangat lambat menurut indera manusia tetapi hasilnya bisa menakjubkan karena proses itu berlangsung jutaan tahun. Selain itu massa dari lempeng itu juga mempengaruhi, semakin besar massa dari lempeng semakin besar pula hasil yang di timbulkan.

Di dalam batas konvergen ternyata batas ini terkait dengan rezim tektonik regangan. Sumber utama daripada timbulnya tegasan regangan didalam litosfer adalah akibat adanya ketidak seimbangan dalam densitas dengan adanya punggungan – punggungan samudera, bagian tepi benua, proses pengangkatan – pengangkatan serta gaya – gaya yang timbul akibat daripada subduksi. Oleh karena itu maka rezim tektonik regangan terutama akan berasosiasi dengan interaksi divergen lempeng litosfer.

Punggung Tengah Samudera

Sifat – sifat Tektonik dari Punggung Samudera secara umum :

Punggung samudera atau bisa disebut punggung tengah samudera merupakan hasil dari suatu proses pergerakan lempeng benua yang mengalami divergensi. Punggungan itu terlihat dengan adanya bentuk – bentuk berupa sederetan pegunungan dengan puncak – puncaknya yang berada pada kedalaman 1300 meter yang terletak pada kedua sisi dari pada suatu celah yang dalam ( disebut rift ) yang dipisahkan oleh dasar selebar 30 – 32 km dan dikontrol oleh sesar normal yang masih aktif.


Bentuk morfologi daripada celah tersebut adalah terutama merupakan produk daripada kegiatan vulkanisme yang kemudian dipengaruji oleh gejala tektonik. Adapun gejala tektonik yang teramati pada dasar celah adalah berupa rekahan – rekahan regangan dengan gerak pergeseran vertical (turun) pada bidang – bidang sesar yang mempunyai kemiringan hampir 600 yang membatasi celah tersebut. Pergeseran vertical ini mempunyai jarak berkisar antara 5 sampai 100 meter.

Sifat – sifat geofisik 

Kegempaan lemah hingga sedang mewarnai kejadian pada bagian puncaknya. Kemudian zona ini juga ditandai oleh “heat flow” yang tinggi disbanding sekitarnya. Tetapi yang menarik lagi dari sifat geofisikanya adalah kenyataan bahwa medan tarikan gaya berat pada bagian puncak daripada punggung, ternyata tidak sebesar yang diperkirakan seperti yang diharapkan dengan adanya massa batuan (punggung raksasa ) yang besar pada bagian punggung.

Sifat – sifat struktur daripada celah

Celah adalah suatu bentuk “Graben” yang bentuknya memanjang. Bagian utamanya terdiri dari pola sesar tarikan yang rumit. Kemudian dicirikan oleh sifat – sifat kegempaan, vulaknik dan endapan endapan yang mencerminkan adanya hubungan dengan suatu gerak – gerak regangan. Semua celah memperlihatkan adanya penyimpangan pada penampang kerak dan mantel bagian atasnya yang menggambarkan adanya gejala penipisan dan regangan atau adanya gejala diaper daripada astenosfer.

Kegiatan – kegiatan vulkanisme yang menyertai sifatnya sangat bervariasi, baik dalam jumlah produk maupun tipenya. Beberapa jenis celah hanya ditandai oleh sejumlah kecil batuan vulaknik saja, tetapi beberapa lagi ada yang sangat banyak. Pada umumnya proses yang berlangsung dalam pembentukan celah – celah itu amat komplek, yang melibatkan bebrapa peristiwa pensesaran dan vulkanisma. Kebanyakn celah akan disertai oleh suatu pembumbungan yang luas dan lebar.

Menurut Burke dan Dewey (1973) pembentukan kubah dan gejala vulkanisme pada celah, dapat terjadi karena mantel yang menggelembung atau diaper mantel yang dapat mengakibatkan terjadinya kubah maupun vulkanisme. Celah yang kemudian terbentuk seperti itu oleh Condie (1982) disebut sebagai “mantle activated”.

Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts