k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Bentuklahan Proses Vulkanik


Vulkan (gunung berapi) dalam Pramono dan Ashari (2013:78) merupakan kenampakan yang berkaitan dengan aktivitas lempeng tektonik. Vulkan dapat berupa suatu pegunungan atau bukit besar dengan lorong yang berlanjut ke bawah hingga bagian atas mantel, yang dilewati oleh magma, debu, dan gas yang secara periodik keluar ke permukaan bumi ataupun ke atmofer. Menurut Flint dan Skinner (1974:309) dalam Soetoto (2013:114) yaitu tempat keluarganya magma, bahan rombakan batuan padat dan gas dari dalam bumi ke permukaan bumi.

Gunung berapi dalam Pramono dan Ashari (2013:79) terbentuk karena adanya proses vulkanisme yaitu gerakan batuan cair (magma) pada permukaan bumi atau ke arah permukaan bumi. Proses vulkanisme dapat berupa intrusi dan ekstrusi. Intrusi terjadi di dalam pelapisan kerak bumi menghasilkan kenampakan seperti batolit, dyke, dan sill. Sedangkan ekstrusi  menurut Huggett (2007) dalam Pramono dan Ashari (2013:79) menghasilkan berbagai kenampkan di atas kerak bumi dimana material berhasil menerobos celah celah vulkanik.

Gunung berapi menurut Cotton (1994) dalam thornbury (1969) dalam Pramono dan Ashari (2013:81) meliputi :

1. Kerucut basalt, ini jarang dijumpai karena lava basaltic bersifat encer.

2. Dome basalt, sering pula disebut gunung berapi perisai (shield volcanoes) yang terbentuk oleh keluarnya lava basaltik yang encer.

3. Kerucut debu atau kerucut cinder, terbentuk dari berupa letusan lembut dan terutama menghasilkan material piroklastik.

Berdasarkan sifat lava yang dikeluarkan dan letusannya, menurut Thornburry (1969) dalam Pramono dan Ashri (2014: 80) terdapat beberapa jenis erupsi yaitu :

1. Tipe hawai, ditandai dengan pencurahan lava basaltic yang sangat encer dan jarang terjadi letusan. Lava umumnya keluar melalui celah-celah di sekeliling tubuh gunung berapi.

2. Tipe Stromboli, ditandai oleh pengeluaran lava basaltic yang tidak begitu encer (lebih kental) dibandingkan tipe hawai, sehingga lebih banyak terjadi letusan dan materialnya lebih fragmental.

3. Tipe vulkano, ditandai  oleh pengeluaran lava yang kental yang segera membeku apabila terkena udara.

4. Tipe pelee, ditandai oleh pengeluaran lava yang sangat kental dan letusannya sangat hebat. Berbeda dari tipe-tipe yang lainnya, pada tipe ini terdapat formasi nuees ardentes yaitu awan pijar yang terdiri atas campuran yang sangat panas berupa debu halus dan fragmen batuan yang kasar yang pijar serta gas panas. 

Tipe gunung berapi menurut Thornburry (1969) dalam Pramono dan Ashari (2014: 81) meliputi :

1. Kerucut basalt, ini jarang dijumpai karena lava basaltic bersifat encer.

2. Done basalt, sering pula disebut gunung api perisai (shield volcano) yang terbentuk karena keluarnya magma basaltic yangb encer. Lava keluar melalui celah-celah radial meskipun pada mulanya banyak yang keluar melalui lubang yang memusat.’

3. Kerucut debu atau kerucut cinder, terbentuk dari berupa letusan lembut dan terutama menghasilkan material piroklastik.

4. Gunung  berapi strato,ini menunjukkan stratifikasi yang kasar yang berupa lapisan lava dan material piroklastik yang berselang-seling. Struktur demikian menunjukkan adaya periode pergantian antara erupsi letusan danerupsi tenang.

Secara bentang alam, gunung api yang berbentuk kerucut dalam Bronto (2006:60) dapat dibagi menjadi daerah puncak, lereng, kaki, dan dataran di sekelilingnya. Pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh Williams dan McBirney (1979) dalam Bronto (2006:60) untuk membagi sebuah kerucut gunung api komposit menjadi 3 zone, yakni Central Zone, Proximal Zone,dan Distal Zone. Central Zone disetarakan dengan daerah puncak kerucut gunung api, Proximal Zone sebanding dengan daerah lereng gunung api, dan Distal Zone sama dengan daerah kaki serta dataran di sekeliling gunung api. Namun dalam uraiannya, kedua penulis tersebut sering menyebut zone dengan facies, sehingga menjadi Central Facies, Proximal Facies,dan Distal Facies. Pembagian fasies gunung api tersebut dikembangkan oleh Vessel dan Davies (1981) serta Bogie dan Mackenzie (1998) dalam Bronto (2006:61) menjadi empat kelompok, 61 Fasies gunung api dan aplikasinya (S. Bronto) yaitu Central/Vent Facies, Proximal Facies, Medial  Facies,dan Distal Facies. Sesuai dengan batasan fasies gunung api, yakni sejumlah ciri litologi (fisika dan kimia) batuan gunung api pada suatu lokasi tertentu, maka masing-masing fasies gunung api tersebut dapat diidentifikasi berdasarkan data :

1. Inderaja dan geomorfologi.

2. Stratigrafibatuan gunung api.

3. Vulkanologi fisik.

4. Struktur geologi.

5. Petrologi-geokimia.

Fasies sentral terletak di bagian puncak atau pusat erupsi, fasies proksimal pada lereng atas dan fasies medial di lereng bawah. Fasies distal terletak di kaki dan dataran di sekeliling gunung api, di antaranya dataran di latar depan gunung api. Fasies sentral dalam Bronto (2006:63) merupakan bukaan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan. Fasies proksimal merupakan kawasan gunung api yang paling dekat dengan lokasi sumber atau fasies pusat. Pada fasies medial, karena sudah lebih menjauhi lokasi sumber, aliran lava dan aglomerat sudah berkurang, tetapi breksi piroklastika dan tuf sangat dominan, dan breksi lahar juga sudah mulai berkembang. Sebagai daerah pengendapan terjauh dari sumber, fasies distal didominasi oleh endapan rombakan gunung api seperti halnya breksi lahar, breksi fluviatil, konglomerat, batupasir, dan batulanau. Endapan primer gunung api di fasies ini umumnya berupa tuf. Ciri-ciri litologi secara umum tersebut tentunya ada kekecualian apabila terjadi letusan besar sehingga menghasilkan endapan aliran piroklastika atau endapan longsoran gunung api yang melampar jauh dari sumbernya. Pada pulau gunung api ataupun gunung api bawah laut, di dalam fasies distal ini batuan gunung api dapat berselang-seling dengan batuan nongunung api, seperti halnya batuan karbonat.

Batuan penyusun Gunungapi Merbabu secara umum terdiri atas endapan piroklastika dan leleran lava. Pada lereng-lereng Gunungapi Merbabu ditemukan leleran lava andesitis dan basaltis, terdapat juga endapan pasir yang masih segar dan mudah lepas. Verbeek (1986) menemukan aliran lava basaltis pada sungai-sungai kecil di Gunungapi Merbabu. Berdasarkan penelitian Neuman Van Padang (1951) dalam Kurniawan (2010:7) batuan penyusun Merbabu terdiri atas basalt (tersusun dari mineral olivin-augit), andesit dengan mineral augit, serta andesit dengan mineral hornblen-hipersten-augit.


Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts