k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Bentuklahan Asal Proses Marine

Geomorfologi memiliki cabang keilmuan yang khusus membicarakan wilayah pesisir yaitu geomorfologi kepesisiran. Geomorfologi kepesisiran merupakan  ilmu terapan yang berhubungan dan memiliki kesamaan objek kajian dengan ilmu terapan yang lainnya seperti geologi, meteorologi, oseanografi, teknik kepesisiran, dan bagian-bagian dari biologi. Menurul Bloom (1991) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:137) menambahkan lingkup kajian geomorfologi pesisir adalah proses dan bentuklahan yang terdapat pada wilayah peralihan antara darat dengan laut, tidak termasuk bentuklahan di kedalaman dasar laut. 


Menurut Bird (2008) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:137) menyebutkan bahwa geomorfologi kepesisiran mengkaji pembentukan kenampakan-kenampakan kepesisiran (bentuklahan), proses yang bekerja terhadap pembentukannya dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam keruangan wilayahnya. Menurut Bird dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:138) geomorfologi kepesisiran memiliki beberapa tema, anatara lain :

1. Pembentukan bentuklahan dalam kaitannya dengan geplogi, proses, variasi iklim dan perbandingan ketinggian darat dan laut.

2. Perubahan garis pantai pada waktu-waktu khusus, disertai analisis penyebabnya.

3. Proses pada zona pecah gelombang dan responnya, khususnya pada gisik (beaches).

4. Keterangan dari geologi sejarah, yakni perubahan-perubahan pada wilayah darat dan ketinggian permukaan air laut serta variasi iklim.

5. Sumber dan pola pergerakan sedimen kepesisiran.

6. Berlangsungnya proses pelapukan di wilayah kepesisiran.

Konsep wilayah kepesisiran oleh Shepard dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:139), merumuskan tipe ruangan wilayah kepesisiran, sebagai berikut :

1. Lingkup wilayah kepesisiran pada daerah berpasir

Tipe kepesisiran ini memiliki topografi landai dan berpasir dengan proses utama yang berlangsung adalah sedimentasi pasir marine dan aeolin. Hasilnya dari proses tersebut berupa perkembangan gisik (beach) dan bukit-bukit pasir (sand dunes) yang sangat baik. Pada tipe kepesisiran semacam ini, wilayah kepesisiran (coastal area) meliputi:

a. Zona pecah gelombang (breaker zone).

b. Pantai (shore) berserta gisiknya (beach).

c. Pesisir (coast) yang didalamnya dijumpai gumuk pasir (sand dunes).

d. Daerah-daerah yang secara morfogenesis pembentukannya massih dipengaruhi aktivitas marine.

2. Wilayah kepesisiran pada daerah rataan terumbu karang

Tipe kepesisiran ini bertopografi landai dengan pelataran pantai (platform) dari meterial terumbu karang. Proses utama yang berlangsung adalah pasang-surut air laut. Pada tipe kepesisiran semacam ini, wilayah kepesisiran (coastal area) meliputi :

a. Zona pecah gelombang (breaker zone).

b. Pantai (shore), yang dijumpai rataan terumbu (reef flaat)

3. Wilayah kepesisiran pada daerah rataan pasang surut.

Tipe kepesisiran ini juga bertopografi landai tetapi material penyusunnya berupa lumpur. Proses utama yang berlangsung adalah sedimentasi lumpur maupun pasang-surut air laut yang menunjukan perkembangan wilayah berlumpur. Pada tipe kepesisiran ini, wilayah kepesisiran (coastal area) meliputi :

1. Zona pecah gelombang (breaker zone).

2. Pantai (shore), dengan rataan pasang-surut (tidal-flat).

4. Wilayah kepesisiran pada cliff batu gamping dan pseudocliff batuan beku

Tipe kepesisiran ini dicirikan oleh keberadaan cliff dan tidak terdapat gisik. Proses utama yang berlangsung adalah abrasi dan runtuhan batuan (rockfall). Wilayah kepesisiran di sini hanya meliputi pantai (shore), yang dimulai dari zona pecah gelombang (breaker one) hingga tebing cliff.

Shepard mengajukan klasifikasi pesisir pada tahun 1997. Tipologi pesisir ini ternyata banyak diiukti sampai sekarang. Menurut Gunawan, dkk dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:151) menggunakan klasifikasi ini untuk membuat tipologi pesisir dalam survey wilayah kepesisiran. Pesisir menurut kategori ini dibagi menjadi dua kategori yaitu pesisir primer (primary coast) dan pesisir sekunder (secondary coast). Pesisir primer dikelompokkan lagi menjadi 4 tipe, yaitu :

1. Land erosion coast, bentuklahan pesisir yang berkembang di bawah pengaruh erosi lahan-lahan bawah di daratan yang diikuti inudasi oleh laut.

2. Sub-aerial deposition coast, pesisir yang terbentuk akibat akumulasi secara langsung bahan-bahan sedimen sungai, glasial, angin, atau akibat longsor lahan ke arah laut.

3. Volcanic coast, pesisir yang terbentuk sebagai akibat proses vulkanik di tengah laut.

4. Structrally shaped coast, pesisir yang terbentuk akibat proses patahan, pelipatan atau intrusi batuan sedimen.


Pesisir sekunder dikelompokkan ke dalam 3 tipe pesisir, yaitu :

1. Wave erosion coast, pesisir dengan garis pesisir yang terbentukakibat aktivitas gelombang, yang mungkin berpola lurus atau tidak teratur tergantung pada komposisi maupun struktur dari batuan penyusun.

2. Marine deposition coast, pesisir yang terbentuk oleh deposisi material sedimen marine. Termasuk dalam kategori ini adalah :

a. Pesisir berpenghalang (barrier coast) seperti barrier beaches, barrier island, barrier spit and bays.

b. Cuspate forelands.

c. Beach plains.

3. Coast built by organisms, pesisir dengan garis pesisir yang terbentuk akibat aktivitas hewan atau tumbuhan.

Bentuk lahan terpengaruh erosional ddi wilayah kepesisiran, yaitu (Heru Pramono dan Arif Ashari, 2013:155):

1. Cliff, menurut Goudie (2004) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:155) merupakan lereng curam (biasanya >40°, kadangkala berbentuk vertikal dan sesekali menggantung), menunjukkan formasi batuannya.

2. Plengkung dan pilar laut.

Bentuk lahan konstruksional di wilayah kepesisiran dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:159) yaitu:

1. Dataran Pantai

Dataran pantai adalah bagian dari continental shelf yang muncul di atas permukaan laut baik karena pengangkatan dasar laut maupun karena susut laut. Sedangkan continental shelf adalah suatu tepi benua yang terendam air sebagai laut dangkal dengan kedalaman <180 meter.

2. Gisik (Beach)

Gisik (beach) adalah akumulasi pada pantai (shore) yang berupa meterial lepas, sedimen tidak padu (unconsolidated) dengan ukuran pasir kasar, kerikil, kerakal, hingga boulder, kadang-kadang disertai terkelupas.

3. Spit dan barrier

Spit merupakan gisik yang terbentuk di atas garis pasang tertiggi dan terpisah dari pantai, biasanya berakhir pada satu atau lebih sangkutan ke arah darat atau pelengkungan kembali.

4. Tombolo

Tombolo merupakan pematang dengan material gisik yang terbentuk oleh gelombang, dan menghubungkan pulau-[ulau atau mengikat sebuah pilar atau pulau kepada daratan utama.

5. Cuspate Foreland

Cuspate Foreland menurut Sunarto (1991) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:165) merupakan akumulasi pasir dan kerikil dengan morfologi segitiga yang kedua sisinya cekung ke arah darat dan terjadi dari penggabungan dua beting gisik yang bertemu di satu titik yang letaknya menjorok ke arah laut.


Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts