k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Bentuklahan Proses Aeolin

Bentuk lahan proses eolin terbentuk oleh kerja angin sebagai salah satu agen geomorfik. Menurut Suharsono (1998) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:167) gerakan udara atau angin (eolus) dapat membentuk medan yang spesifik sifatnya dan berbeda dari medan hasil bentukan proses lainnya. Syarat-syarat terbentuknya medan eolin antara lain:

1. Tersedia material pasir halus hingga debu dalam jumlah cukup banyak.

2. Ada periode kering yang panjang disertai angin yang mampu mengangkut dan mengendapkan bahan-bahan tersebut.

3. Gerakan angin tidak terhalang oleh vegetasi maupun obyek lainnya.

Lokasi persebaran bentuklahan asal proses aeolin dalam Fidyah Yuniarti Handayani (2013):

1. Daerah sekitar 30° LU/LS.

2. Daerah bayangan hujan.

3. Daerah pedalaman benua.

4. Daerah pantai.

Proses kerja aliran sungai menurut Suharsono (1988) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:118) menghasilkan bentuklahan tiga bagian yang saling berkaitan yaitu erosi, transportasi, dan sedimentasi. Karena saling berkaitan ketiga proses ini sering disebut tiga tahap dari aktivitas tunggal. Tahap dalam proses ini diawali dengan erosi, kemudian pengangkutan, dan sedimentasi. Apabia lereng atau debit aliran permukaan semakin kecil, kecepatan dan energi aliran juga menjadi keciil. Maka pada tahap ini terjadi sedimentasi karena tenaga untuk mengangkut material hasil erosi juga berkurang.

Batu Jamur

Erosi dalam Uswatun Khasanah (2012) adalah proses pengikisan suatu obyek benda atau material yang disebabkan oleh banyak faktor alam. Faktor-faktor yang menyebabkan erosi beberapa contoh secara sederhana adalah erosi angin di daerah bebatuan, secara lambat laun bebatuan yang diterpa angin akan terkikis (erosi) akan berubah menjadi gurun pasir yang tandus dan kering kerontang. Pekerjaan erosi oleh angin dapat dibedakan dalam tiga cara dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:46) yaitu melalui deflasi, abrasi dan atrisi. Deflasi adalah pemindahan material-material hasil pelapukan oleh tiupan angin. Deflasi terjadi pada permukaan lahan yang kering yang diliputi partikel-partikel kecil dan lepas. Angin melakukan pemilihan dalam kegiatan deflasinya, yaitu lempung atau lumpur yang diangkut tinggi ke udara, sedangkan butiran yang lebih besar seperti pasir baru akan dipindahkan apabila terjadi angin yang kuat. Abrasi angin berupa badai pasir yang mengikis permukaan batuan pada suatu lereng curam, bukit, atau massa batuan lainnya yang menonjol di atas permukaan yang relatif rata. Abrasi angin menghasilkan ceruk-ceruk, celah-celah yang apabila memanjang disebut yardang, serta lubang-lubang pada batuan. Erosi angin berupa atrisi adalah berupa pergeseran partikel-petikel batuan ke arah muka, sehingga tidak menghasilkan kenapakan yang istimewa. Dalam proses pemindahan materialnya angin mengangkut material dengan empat cara yaitu saltation (meloncat), dan creep (merayap). 

Menurut Huggett (2007) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:47) sebagai berikut. Saltation terjadi pada butir pasir yang bergerak meloncat pada jarak pendek dengan ketinggian sekitar 2 meter. Apabila pada saat peloncatan (saltating) butiran pasir tejadi pelepasan partikel kecil yang terpercik seperti “shower” dan bergerak sedikit meloncat dari titik awalnya, maka proses inilah yang disebut reptation. Pada proses suspension partikel debu dan lempung terbawa naik ke atmosfer sebagai suspensi (terbawa menyatu dengan pengangkutnya) dan terangkut hingga jarak yang lebih jauh.

Bentuklahan hasil dari erosi angin dapat berupa pemindahan material pasir, ataupun pengikisan batuan akibat tumbukan antara material yang diangkut oleh angin dengan permukaan batuan tersebut, antara lain deflation. Termasuk dalam bentuklahan hasil erosi oleh angin dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:169) antara lain deflation hollow dan pans, yardang, dan ventifact.

1. Deflation Hollow dan Pans

Menurut Huggett (2007) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:169) deflasi dapat mengikis material passir membentuk depresi luas ataupun kecil yang disebut deflation hollow atau blowouts. Blowouts merupakan bentuklahan paling umum terbentuk karena erosi oleh angin. Kenampakan ini terutama berkembang pada sedimen lemah dan tidak padu. Pan merupakan deprsi tertutup yang banyak dijumpai pada kebanyakan wilayah kering.

2. Yardang dan Zeugen

Yardang adalah pengerukan sedimen oleh abrasi dan deflasi, walaupun mungkin juga dengan melibatkan proses pembentukan parit, gerakan massa, dan pelapukan garam. Zeugen sering disebut juga perched atau mushroom rock, berhubungan dengan yardang. Keduanya terbentuk karena kerja angin terhadap pelapisan, khususnya pelapisan lunak yang menutup permukaan bumi.

3. Ventifacts 

Cobble dan pebble pada gurun yang berbatu, permukaannya seringkali tergores-gores seperti bekas cakaran. Kenampakan demikian disebut ventifacts. 

Bentuklahan deposisional hasil proses angin yang terpenting adalah gumuk pasir dan loess. Menurut Hugget (2007) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:173) mengatakan bahwa akumulasi pasir pada dasarnya mempunyai berbagai ukuran dan bentuk. Deposisi dapat dijumpai sebagai lembaran pasir (lapangan pasir atau lautan pasir), atau loess, atau membentuk gumuk (dunes).

1. Gumuk Pasir (Sand Dunes)

Gumuk pasir adalah gundukan bukit atau igir-igir dari pasir yang diendapkan angin. Syarat terbentuknya gumuk pasir pada suatu daerah adalah adanya sumber pasir, kecepatan angin cukup kuat untuk mengikis dan mengangkut butir-butir berukuran pasir, dan permukaan lahan untuk pengendapan pasir. Keadaan ini selain dijumpai di daerah arid umumnya terdapat di daratan dari gisik berpasir dengan angin pantai di dekat sungai yang dasarnya berpasir menurut Suharsono (1988) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:174). Menurut Hugget (2007) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:174) menyatakaan gumuk pasir merupakan kumpulan dari pasir lepas yang terbentuk oleh angin sedikit demi sedikit

a. Gumuk Pasir Barchan

Gumuk pasir ini terbentuk pada daerah dengan pasir terbatas dan sedikit vegetasi. Kedua ujung gumuk pasir ini mengarah ke belakang dan pasir tersapu ke sekitar gumuk maupun ke atas melampau puncak sehingga bentuknya menyerupai bulan sabit yang membelakangi arah datangnya angin.

b. Gumuk Pasir Melintang

Gumuk pasir melintang sering disebut juga sebagai dune transversal yang berkembang dengan arah tegak lurus terhadap arah angin yang biasanya bertiup. Menurut Suhasono (1988) gumuk pasir melintang berkembang pada daerah yang memiliki banyak cadangan pasir dan sedikit tumbuhan. Gumuk ini sering meliputi punggung melengkung dan melintang tegak lurus terhadap arah angin.

c. Gumuk Pasir Memanjang

Gumuk pasir memanjang sering disebut juga dune longitudinal, merupakan gundukan pasir yang hampir lurus yang bentuknya sejajar terhadap arah angin. Gumuk pasir memanjang ini terdapat pada daerah dengan pengaruh angin yang kuat dan berhembus dengan arah yang tetap.

d. Gumuk Pasir Parabolik

Gumuk pasir parabolik merupakan salah satu contoh dari kategori gumuk pasir berpenghalang. Berbentuk sabit dengan tanduk yang panjang ke arah datangnya angin. Pada umumnya terbentuk oleh adanya vegetasi yang menahan bagian tanduk, dan memungkinkan bagian tengah gumuk berpindah dan menghasilkan gumuk berbentuk jepit rambut. Titik-titik ujung yang runcing menghadap ke arah datangnya angin jauh lebih landai dibanding sisi lereng yang terlindung. Dune ini terbentuk ketika angin memindahkan pasir dari cekungan-cekungan yang menghadap arah datangnya angin, dan mengendapkan pasir-pasir tersebut pada lereng-lereng yang terlindung.

2. Loess

Menurut Hugget (2007) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:181) loess adalah sedimen terestrial yang tersusun oleh partikel debu yang tertiup angin secara luas, yang terbentuk dari kuarsa. Loess mudah tererosi oleh aliran air. Proses pada saluran bawah tanah, bentuk-bentuk pseudo-karst, dan parit-parit. Pada area dengan relief tinggi dijumpai pula bahaya longsor.


Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts