k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Bentuklahan Proses Fluvial

 Bentuklahan asal proses fluvial menurut Suharsono (1988) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:118) dihasilkan oleh kerja aliran sungai, dalam hal ini terutama pada daerah-daerah deposisi seperti lembah sungai besar dan dataran aluvial. Prosess kerja aliran sungai yang menghasilkan bentuklahan fluvial meliputi tiga bagian yang saling berkaitan yaitu erosi, transportasi, dan sedimentasi. Karena saling berkaitan ketiga proses ini sering disebut tiga tahap dari aktivitas tunggal. Tahap dalam proses ini diawali dengan erosi, kemudian pengangkutan, dan sedimentasi. Apabia lereng atau debit aliran permukaan semakin kecil, kecepatan dan energi aliran juga enjadi keciil. Maka pada tahap ini terjadi sedimentasi karena tenaga untuk mengangkut material hasil erosi juga berkurang.

Dalam Chay Asdak (2007:338) dua penyebab utama terjadinya erosi adalah erosi karena alamiah dan erosi karenaa aktivitas manusia. Erosi alamiah dapat terjadi karena proses pembentukan tanah dapat terjadi karena proses pembentukan tanah dan proses erosi yang terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Salah satu tipe erosi di daerah tropis yaitu erosi tebing sungai (streambank erosion) adalah pengikisan tanah pada tebing-tebing sungai dan penggerusan dasar sungai oleh aliran air. 

Sungai Braided Stream

Sedimentasi dalam Chay Asdak (2007:391) adalah hasil dari erosi. Sedimen sering dijumpai di dalam sungai. Baik terlarut atau tidak terlarut, adalah merupakan produk dari pelapukan batuan induk yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, terutama perubahan ikli.hasil pelapukan batuan induk tersebut kita kenal dengan partikel-partikel tanah. Partikel-partikel tanah tanah tersebut dapat terkelupas dan terangkut ke tempat yang lebih rendah untuk kemudian asuk ke dalam sungai dan dikenal dengan sedimen  sehingga transpor sedimen dari tempat tinggi ke rendah dapat menimbulkab pendangkalan.

Menurut Van Sleen, dkk (1974) dan Suharsono (1988) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:118) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kondisi alami dari sedimen fluvial, yaitu :

1. Muatan sedimen pada tubuh perairan yang dikontrol oleh kecepatan aliran, gradien, dan pasokan (supply) dari muatan sedimen itu sendiri.

2. Luas dan kondisi alami daerah aliran sungai, mencakup kondisi geologi, iklim, relief, tanah, vegetasi, penutup, dan bentuk DAS.

3. Kondisi aliran air yang meliputi kecepatan, kuantitas, dan arah aliran air serta variasinya.

Dalam Ghufron Fikrianto (2015) perbedaan kontur tanah membuat pola aliran sungai berbeda-beda, pola aliran sungai dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu :

1. Rektangular, yaitu pola aliran sungai yang terdapat pada daerah yang mempunyai struktur patahan.

2. Angular, yaitu pola aliran sungai yang membentuk sudut <90°. Pola aliran inimasih mengikuti garis-garis patahan.

3. Radial sentrifugal, yaitu pola aliran sungai pada kerucut gunung merapi atau dome yang baru memasuki stadium muda dan arah alirannya menuruni lereng (meninggalkan pusatnya).

4. Radial sentripetal, yaitu pola aliran sungai pada suatu kawah    atau cekungan pada gunung, arah alirannya menuju ke pusatnya.

5. Trelis, yaitu pola aliran sungai yang berbentuk seperti treli atau jeruji, pola ini terbentuk di pegunungan lipatan.

6. Anular, yaitu pola aliran sungai utamanya berbentuk melingkar (radial, anak sungainya hampir berbentuk tegak lurus dengan sungai utama, pola ini terbentuk pada pegunungan tua.

7. Dendritik, yaitu pola aliran sungai yang mirip cabang atau akar tanaman, pola aliran ini berada pada daratan yang landai sehingga arus sungainya tidak terlalu deras dan tidak cukup kuat untuk menempuh jalur lurus dan pendek.

8. Pinnate, yaitu pola aliran sungai yang muara-muara sungainya membentuk sudut lancip.

Orde sungai adalah posisi percabangan alursungai di dalam urutannya terhadap induk sungai pada suatu DAS. Berdasarkan metode Stahler, alur sungai palung hulu yang tidak mempunyai cabang disebut orde pertama (orde 1), pertemuan antara orde yang memiliku angka yang sama akan menjadi orde dengan satu angka yang lebih besar dari orde sebelumnya namun jika kedua cabang sungai yang bertemu memiliki nilai orde yang berbeda, maka nilai terbesar yang dipakai untuk orde selajutnya. Demikian seterusnya sampai diketakui orde terbesarsungai utama.

Menurut Charkton (2008) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:119) sistem fluvial terdiri atas tiga bagian yaitu zona erosi, zona transportasi, dan zona deposisi. Zona erosi merupakan bagian hulu daerah aliran sungai dan merupakan wilayah yang terdapat sungai berstadium muda. Zona transportasi merupakan wilayah sungai berstadium dewasa. Adapun zona deposisi merupakan wilayah sungai yang berstadium tua yang banyak dijumpai kenampakan hasil deposisi.

Beberapa contoh bentuklahan asal proses fluvial, yaitu (Heru Pramono dan Arif Ashari, 2013:124):

1. Dataran aluvial dan kuipas aluvial

Apabila sungai atau aliran yang bermuatan banyak muncil dari bukit atau pegunungan dan mengalir menuju ke arah rendah, maka diendapkanlah aluvium hasi pengikisannya karena terjadi perubahan derajat kemiringan.aluvium yang diendapkan menyebar dalam bentuk menyerupai kipas di dataran rendah, disebut kipas aluvial (aluvial fans) sedangkan dataran aluvial terbentuk apabila serangkaian kipas-kipas aluvial  yang berdampingan bergabung satu sama lain.

2. Crevasse-splays

Bentuklahan ini berupa endapan pada celah-celah yang sejajar dengan lengkung sungai, dengan lebar dari beberapa puluh meter hingga beberapa ratus meter, ketebalan sedimen dari beberapa puluh sentimeter hingga beberapa meter.

3. Dataran Banjir

Dataran banjir (flood plain) terbentuk melalui pengendapan muatan sungai berstadium dewasa. Perulaan sungai dewasa ditandai oleh permulaan perkembangan dasar lembah yang datar, dihasilkan oleh erosi lateral.

4. Tanggul Alam

Tanggul alam terbentuk dari akumulasi sedimen yang membatasi alur sungai yang nampak sebagai tanggul memanjang. Tinggi maksimum suatu tanggul terdapat pada bagian tepi dalam tanggul yang berbatasan dengan alur sungai dengan lereng curam. Pada sisi yang menjauhi alur sungai ke arah datarn banjir, lereng tanggul berangsur-angsur berkurang menjadi miring hingga landai. Kenampakan ini mengindikasikan pada saat terjadi banjir tinggi muka air sungai pernah mencapa permukaan tanggul bahkan melampauinya.

5. Teras Aluvial

Teras merupakan bentuklahan asal proses fluvial yang dicirikan oleh keberadaan dinding berlereng curam pada satu sisi dan lereng datar/landai pada sisi lainnya.

6. Point Bar

Bentuklahan ini banyak dijumpai pada sungai yang sedang mengalami meandering, yaitu terbentuk oleh pengendapan material di dalam alur sungai dan berlangsung pada saat yang bersamaan dengan erosi ke arah samping pada sisi yang berlawanan. Di dalam point bar terdapat igir-igir (scroll) yang diantaranya diselingi aleh alur-alur (swales) dengan kedudukan hampir sejajar satu sama lain. Secara umum tekstur material point bar tergantung pada keadaan sedimen yang terangkut oleh aliran sungai pada saat banjir, namun demikian swales cenderung terisi material halus. Menurut Arbogast dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:131) menjelaskan deposisi sedimen dalam proses pembentukan point bar terjadi pada bagian dalam meander karena aliran sungai pada bagian tersebut relatif lemah. Sebaliknya dijumpai pada bagian yang berlawanan, dimana terjadi pemotongan lereng oleh erosi sungai pada sisi luar meander karena tingginya kecepatan aliran pada bagian tersebut.

7. Delta

Delta merupakan bentuklahan asal proses kepesisiran yang terdiri atas penyusunan darat dan laut terhadap sedimen yang terbawa oleh proses fluvial, yang membentuk bentang lahan aluvial melalui deposisi pada muara sungai. Menurut Suharsono (1988) dalam Heru Pramono dan Arif Ashari (2013:133)terdapat beberapa faktor yang mengendalikan pembentukan delta baik bentuk maupun ukurannya, yaitu :

1. Morfologipantai termasuk di dalamnya konfigurasi garis pantai.

2. Arah dan intensitas gelombang yang datang dari laut.

3. Kekuatan mengangkut sedimen yang terangkut oleh sungai dari daratan.

4. Julat (range) dari pasang surut muka air laut.


Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts