k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Interpretasi Obyek dalam Foto Udara dan Citra

Sesuai dengan perkembangannya ,ada beberapa definisi interpretasi foto udara yang di kenal , antara lain :

Berdasarkan American Society of Photogrammety (ASP) - Colwell, 1960, Interpretasi foto di definisikan sebagai pekerjaan pencermatan foto udara untuk keperluan identifikasi obyek dan memperkirakan signifikasinya.

Dalam Manual of Remote Sensing , Colwell , 1983 , interpretasi foto merupakan bagian dari inderaja yang mendefinisikan sebagai pengukuran dan akuisisi informasi dari suatu objek atau fenomena menggunakan alat perekam tanpa adanya kontak secara fisik dengan objek atau fenomena yang sedang dipelajari.

Dikaitkan dengan perkembangan inderaja saat ini , istilah interpretasi foto telah di ganti dengan analisis citra dan interpreter foto menjadi analisis citra. Demikian pula dengan definisinya , berubah menjadi proses pencermatan citra atau data digital oleh manusia atau mesin untuk keperluan identifikasi obyek dan memperkirakan signifikasinya. Penggunaan sumber data juga menjadi lebih umum lagi dari istilah foto udara menjadi citra inderaja.

stereoskop
Stereoskop

Penafsiran foto udara banyak di gunakan oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang di butuhkan . Aplikasi dalam berbagai bidang antara lain pertanian , arkeologi, teknik lingkungan , ekologi , kehutanan, geografi, geologi , meterologi,militer, manajemen sumber daya alam,oceanografi,ilmu tanah ,perencanaan kota dan wilayah.

Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial di atas , di lakukan dengan teknik interpretasi foto ,sedang referensi geografinya di peroleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat di lakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer. Salah satu alat yang banyak di gunakan dalam  pekerjaan interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni tongkat paralaks .

Interpretasi foto dapat di lakukan dengan dua cara yakni cara visual atau manual dan pendekatan digital. Dalam banyak hal, kedua cara pada prinsipnya sama . Pada cara digital hal yang di upayakan antara lain agar interpretasi lebih pasti dengan memperlakukan data secara kuantitatif. Pendekatan cara digital mendasarkan pada nilai spektral per pixel di mana tingakt abstraksinya lebih rendah di bandingkan dengan cara manual. Sistem pakar mulai banyak di upayakan untuk mempertinggi kemampuan abstraksinya. Di sisi lain, disiplin ilmu atau kepakaran yang di miliki interpreter merupakan salah satu faktor subyektif yang dapat mengurangi  nilai kehandalan hasil interpretasi manual. Namun demikian , cara manual sampai saat ini masih tetap dominan di gunakan.

Dalam melakukan interpretasi suatu obyek atau fenomena di gunakan sejumlah kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Suatu obyek atau fenomena dapat di kenali dengan menggunakan salah satu atau kombinasi dari beberapa kunci dasar. Kendatipun demikian ,kadangkala ada sejumlah obyek atau fenomena titik dapat di kenali secara meyakinkan atau bahkan tidak dapat di kenali sama sekali . Oleh sebab itu, diperlukan adanya tahap justifikasi lebih lanjut dengan melakukan pengecekan lapangan atau apa yang di sebut ground truthing. Raben (1967)  memperkenalkan enam kunci intrepetasi  yakni ukuran (size),bayangan , derajat kehitaman dan warna, derajat kehalusan dan pola. Kemudian Estes menambahkan kunci tinggi ,lokasi dan keterkaitan.     

1. Derajat kehitaman (tone) dan warna (color), merupakan elemen dasar yang paling utama dan yang secara langsung digunakan. Untuk foto B&W derajat kehitaman dinyatakan dalam berbagai tingkat keabuan atau derajat keabuan, sedang pada foto berwarna dinyatakan dalam kombinasi hue, intensity dan saturation. Dari tone dapat diperoleh antara lain unsur dasar seperti garis batas dan bentuk geometri obyek. Dengan kombinasi elemen dasar lainnya dapat digunakan untuk mengenali tataguna tanah, membedakan antara jalan dan saluran, jenis perkerasan permukaan, dan unsur-unsur yang dapat dikenali dari nilai spektralnya. 

2. Ukuran (size), merupakan elemen dasar yang banyak digunakan dalam membedakan dua jenis obyek dengan kenampakan yang sama, namun jenis yang berbeda. Contoh : kandang binatang dan rumah, jalan dari dua kelas yang berbeda, keduanya mempunyai bentuk yang bisa sama namun dapat dibedakan dari ukuran atau lapangan badminton dengan lapangan tenis tanpa melihat garis-garis pembatas/ hukuman, dlsb 

3. Bentuk (shape), bentuk juga merupakan elemen dasar utama dalam pengenalan obyek. Contoh : membedakan sungai (alam) dan saluran (buatan manusia) antara bentuk tidak teratur dengan teratur ; mesjid dan rumah tinggal, berkubah dan tidak ; sekolah dan bangunan lain, bentuk L dan ada lapangan upacara didepannya sedang bangunan lain berbeda; dlsb.

4. Tinggi (height), tinggi merupakan informasi yang tidak kalah pentingnya setelah tone. Untuk membedakan dua obyek kadang kala dibutuhkan informasi tinggi bila kunci lainnya kurang pasti. Contoh : bila digunakan paralaks bar, pohon kebun atau pohon hutan industri jenis tertentu akan berkaitan dengan umur tanaman tersebut. 

5. Bayangan (shadow), untuk mengenali jenis suatu obyek dari foto khususnya sekitar titik utama kadang perlu dibantuan bayangan spesifik dari obyek tersebut. Contoh : tiang listrik (pole), menara tegangan tinggi, kabel, jenis pohon (kelapa, misalnya), dlsb 

6. Derajat kehalusan (texture), kadang diperlukan dalam membedakan berbagai jenis kebun dengan melihat derajat kehalusan dari kenampakan pohon-pohon dari kebun tersebut. Contoh kebun kelapa sawit berbeda dengan kebun teh. 

7. Pola (pattern), sebagai mana dengan derajat kehalusan, pengenalan jenis kumpulan obyek dalam suatu area dapat pula dilihat dari polanya. Contoh pengenalan pola aliran sungai seperti dendritik, radial, paralel, dlsb.

8. Tempat (site), kunci ini biasanya dikombinasikan dengan penggunaan kinci lain. Obyek dapat dikenali dari tempat atau lokasinya. Contoh bangunan dipinggir rel kereta api mempunyai kecenderungan sebagai stasiun atau bangunan kontrol sinyal; kebun teh tidak ada di daerah pantai; rumah tinggal tidak ada yang dibangun di pinggir jalan tol, dlsb.

9. Keterkaitan (association), pengenalan obyek dapat pula dikenali dari keterkaitannya dengan unsur atau fenomena tertentu. Contoh kompleks bangunan yang terdiri dari bangunan yang besar, cerobong asap tinggi, timbunan batubara, conveyor, kemungkinan besar adalah instalasi pembangkit tenaga listrik.


Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts