k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Geografi Provinsi Bangka Belitung

Secara astronomis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terletak pada 1040 50’ sampai 1090 30’ Bujur Timur dan 00 50’ sampai 40 10’ Lintang Selatan. Berdasarkan posisi geografisnya, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki batas-batas wilayah:

Barat - Selat Bangka; 

Timur - Selat Karimata; 

Utara - Laut Natuna; 

Selatan - Laut Jawa. 


Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari 6 kabupaten dan 1 kota yang terletak di dua pulau besar, yaitu: 

-Pulau Bangka: Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Barat, Kabupaten Bangka Tengah, Kabupaten Bangka Selatan, dan Kota Pangkalpinang. 

-Pulau Belitung: Kabupaten Belitung dan Kabupaten Belitung Timur. Total luas wilayah daratan dan wilayah lautan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 81.725,06 km2 . 

Luas daratan lebih kurang 16.424,06 km2 atau 20,10 persen dari total wilayah dan luas laut kurang lebih 65.301 km2 atau 79,90 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbagi dalam 6 (enam) kabupaten dan 1 (satu) kota berdasarkan UndangUndang Nomor 5 tahun 2003. Dalam wilayah administrasi pemerintah kabupaten/kota terbagi dalam wilayah kecamatan, kelurahan/desa dengan rincian per kabupaten pada tahun 2018 sebagai berikut:

a. Kabupaten Bangka terdiri dari 8 kecamatan, 19 kelurahan, dan 62 desa.

b. Kabupaten Bangka Barat terdiri dari 6 kecamatan, 6 kelurahan, dan 60 desa.

c. Kabupaten Bangka Tengah terdiri dari 6 kecamatan, 7 kelurahan, dan 56 desa.

d. Kabupaten Bangka Selatan terdiri dari 8 kecamatan, 3 kelurahan, dan 50 desa.

e. Kabupaten Belitung terdiri dari 5 kecamatan, 7 kelurahan, dan 42 desa.

f. Kabupaten Belitung Timur terdiri dari 7 kecamatan dan 39 desa.

g. Kota Pangkalpinang terdiri dari 7 kecamatan dan 42 kelurahan

Dari sisi pemerintahan berdasarkan jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), jumlah anggota yang berjenis kelamin lakil-aki mendominasi dibandingkan perempuan. Pada tahun 2021, jumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) berjenis kelamin lakilaki adalah 41 orang dan perempuan adalah 4 orang. Hal yang sama juga terjadi pada pegawai negeri sipil yang mayoritas berjenis kelamin laki-laki. Pada tahun 2021, jumlah pegawai negeri sipil berjenis kelamin laki-laki adalah sebanyak 2.824 orang dan perempuan adalah sebanyak 2.562 orang. Berdasarkan keuangan daerah, apabila dilihat dari realisasi pendapatan yang diterima Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan adanya peningkatan pendapatan pada tahun 2021. Pendapatan Pemerintah pada tahun 2021 sebesar 3.428.713,68 juta rupiah meningkat sebanyak 15,41 persen dibandingkan tahun 2020 yang berjumlah 2.970.956,89 juta rupiah. Namun, apabila dibandingkan tahun 2018 dan 2019, realisasi pendapatan yang diterima Pemerintah pada tahun 2021 jauh lebih kecil. Sementara itu, dari sisi realisasi belanja Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan adanya pengurangan belanja pada tahun 2021. Belanja Pemerintah pada tahun 2021 sebesar 2.463.803,90 juta rupiah berkurang sebanyak 4,32 persen dibandingkan tahun 2020 yang berjumlah 2.575.170,44 juta rupiah. Namun, apabila dibandingkan tahun 2018 dan 2019, realisasi belanja yang dikeluarkan Pemerintah pada tahun 2021 lebih besar.

Pertumbuhan penduduk berdampak langsung terhadap berbagai hal sosial ekonomi. Di sisi produksi, penduduk merupakan sumber faktor produksi tenaga kerja. Di sisi konsumsi, perlu dipikirkan kebutuhan pangan, sandang, perumahan, dan hiburan. Penduduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjumlah 1,47 juta jiwa. Jumlah laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah perempuan, tercermin pada rasio jenis kelamin sebesar 106. Komposisi penduduk masih didominasi oleh usia produktif (15-65 tahun) sehingga terdapat bonus demografi pada era sekarang ini. Pada tahun 2021, penduduk berumur 15 tahun ke atas di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 1.121.078 orang. Dari jumlah tersebut, 65,88 persen merupakan angkatan kerja dan sisanya bukan angkatan kerja. Lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja terbanyak yaitu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Terdapat sebanyak 31,85 persen penduduk usia 16-18 tahun yang tidak bersekolah lagi pada 2021. Sementara itu pada usia 19-24 tahun terdapat 81,89 persen penduduk yang tidak bersekolah lagi. Persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan sebulan terakhir (sebelum survei) pada 2021 mengalami penurunan sebesar 5,09 poin persen dibandingkan 2020. . Pada tahun 2021, sebesar 17,07 persen penduduk yang mengalami keluhan kesehatan tidak berobat jalan dengan alasan utama khawatir terpapar COVID-19. Terdapat 73,40 persen rumah tangga telah memiliki akses terhadap layanan sumber air minum layak pada 2021. Hampir seluruh rumah tangga di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah menggunakan listrik PLN. Hanya sebesar 0,67 persen yang menggunakan listrik Non-PLN dan 0,25 persen yang menggunakan sumber penerangan bukan lisrik.

Pertanian di Bangka Belitung memiliki identitas mendunia melalui produk lada putih. Meskipun baru dikelola secara turun-temurun oleh masyarakat, Lada Bangka Belitung memiliki aroma dan rasa khas sehingga dijadikan standar dalam perdagangan internasional. Di Bangka Belitung, petani tradisional umumnya menanam Lada dan Karet. Sementara perusahaan dan petani plasma menggarap perkebunan sawit. Daerah lainnya terkenal dengan produk Nanas. Selain perkebunan, perikanan tangkap Babel juga berpotensi besar untuk dikembangkan. Beras merah hasil olahan padi dari penjuru Bangka kian dicari masyarakat. Setiap panen raya, beras merah sudah diborong habis dari penggilingan. Luas panen padi di Bangka Belitung terus bertambah seiring upaya pemerintah mencetak lahan sawah. Produksi pun meningkat karena pada tahun 2021 produktivitas padi terdongkrak dari 3,2 ton per hektar menjadi 3,7 ton per hektar. Dalam setahun, produksi padi meningkat dari 57,32 ton menjadi 69,72 ton.

Industri berkembang pesat hingga era sekarang dikenal dengan industri 4.0. Kehadiran mesinmesin produksi, transportasi, komputer, internet, dan system keuangan mengubah kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Sejalan dengan perkembangan industri, kebutuhan energi pun kian besar. Pada tahun 2020, terdapat 102 perusahaan industri besar dan sedang di Provinsi Kep. Bangka Belitung yang menyerap 9,033 tenaga kerja. Sekitar 44 persen industri besar sedang ini merupakan industri makanan, 17 persen industri logam dasar, dan 15 persen industri barang galian bukan logam. Sementara itu, terdapat total 21,557 industri mikro dan kecil di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menyerap 39,109 tenaga kerja. Sektor industri ini didominasi oleh kategori makanan dengan persentase sebesar 0,69%, Kayu, Barang dari kayu dan Gabus sebesar 0,09%, Minuman sebesar 0,06% dan Pakaian Jadi sebesar 0,05%.

Perkembangan pariwisata tak lepas dari bisnis jasa penginapan dan akomodasi. Pada umumnya, indikator kemajuan pariwisata tergambar dari jumlah akomodasi kamar hotel. Jumlah akomodasi hotel berbintang di Kepulauan Bangka Belitung berjumlah 51 dengan jumlah kamar 3.346 pada tahun 2021. Apabila dibandingkan tahun 2020, terdapat pengurangan jumlah akomodasi sebanyak 4 unit, karena tutup sementara pada tahun 2021. Akomodasi nonbintang di Kepulauan Bangka Belitung berjumlah 132 dengan jumlah kamar sebanyak 2.113. Apabila dibandingkan tahun 2020, terdapat pengurangan jumlah akomodasi sebanyak 10 unit, karena tutup sementara pada tahun 2021. Pada tahun 2021, tingkat penghunian kamar hotel berbintang tercatat sebesar 22,73 persen dan 17,52 persen untuk nonbintang. Adapun rata-rata lama menginap tamu asing selama tahun 2021 yaitu dua hari, sedangkan tamu domestik selama satu sampai dua hari.

Perdagangan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat. Begitu pula dengan perdagangan internasional. Ekspor dan impor adalah keniscayaan karena tak satu negara pun yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Hal itu tergambar dari neraca perdagangan. Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Kepulauan Bangka Belitung surplus 2,64 miliar dolar Pada tahun 2021. Komoditas ekspor Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2021 dikirim melalui pelabuhan Bangka Belitung dan di luar Bangka Belitung. Untuk provinsi muat di luar Bangka Belitung adalah Riau, Jambi, DKI Jakarta, dan Bali. Pada tahun 2021, nilai impor Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 34,23 juta dollar AS, dengan berat bersih 26.983,007 ton. Nilai impor terbesar berasal dari Jepang yaitu sebesar 16,4 juta dollar AS.

Performa ekonomi wilayah pada umumnya digambarkan oleh PDRB. Struktur perekonomian berdasarkan lapangan usaha atau pengeluaran tergambar dari PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB). Sementara pertumbuhan ekonomi terlihat dari PDRB atas dasar harga konstan (ADHK). Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2021 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp85,94 triliun dan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) 2010 mencapai Rp55,36 triliun. Ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 5,05 persen setelah sempat terkontraksi pada tahun sebelumnya sebesar 2,30 persen sebagai dampak adanya pandemi Covid-19. Pada tahun 2021, perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah kembali bangkit yang terlihat dari pertumbuhan pada seluruh lapangan usaha maupun seluruh komponen pengeluaran. Dari sisi produksi, lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 14,16 persen, diikuti oleh lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang tumbuh sebesar 10,62 persen serta lapangan usaha Pengadaan Listrik dan Gas yang tumbuh sebesar 10,42 persen. Dari sisi pengeluaran, kontributor terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berasal dari komponen neraca perdagangan, dimana komponen ekspor tumbuh lebih tinggi dibandingkan impor yang merupakan faktor pengurang. 

Jumlah penduduk tahun 2021 paling banyak ada di Provinsi Jawa Barat yakni sebanyak 48,8 juta jiwa. Sedangkan yang paling sedikit ada di Provinsi Kalimantan Utara yakni sebanyak 713,6 ribu jiwa. Pada tahun 2021, hampir seluruh provinsi mengalami pertumbuhan ekonomi positif kecuali Provinsi Papua Barat dan Provinsi Bali yang mengalami kontraksi pertumbuhan masingmasing sebesar 0,51 persen dan 2,47 persen. Namun demikian pada tahun 2021, pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi sudah mengalami perbaikan dibanding tahun 2020 lalu. Pada tahun 2021, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berada di posisi kelima yakni sebesar 5,05 persen. Dari sisi kualitas pembangunan manusia yang dilihat dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2021, Provinsi DKI Jakarta berada di peringkat tertinggi dengan nilai IPM sebesar 81,11 dan masuk dalam kategori sangat tinggi. Sementara itu, Provinsi Papua berada di peringkat terendah dengan nilai IPM sebesar 60,62. IPM Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2021 mencapai 71,69 (kategori tinggi) dan berada pad


Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts