k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Peningkatan Tingkat Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tanggal 24 April 2022 menjadi LeveI III (Siaga)

Pendahuluan

Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda, Provinsi Lampung, secara geografis terletak pada posisi 06o06’05” LS dan 105o 25’ 22,3” BT. Sejak kelahiran G. Anak Krakatau pada Juni 1927 hingga saat ini, erupsi berulang kali terjadi sehingga G. Anak Krakatau tumbuh semakin besar dan tinggi. Pasca erupsi yang terjadi   pada tanggal 22 Desember 2018 yang kemudian kolapsnya tubuh bagian barat daya dari G. Anak Krakatau, tinggi G. Anak Krakatau saat ini sekitar 150 mdpl.

Karakter letusan G. Anak Krakatau berupa erupsi eksplosif dan erupsi efusif dengan waktu istirahat letusannya berkisar antara 1– 6 tahun. Erupsi-erupsi ini menghasilkan abu vulkanik dan lontaran lava pijar serta aliran lava.

Pengamatan Visual

Secara visual, tinggi hembusan asap selama periode 1 - 24 April 2022 dari arah Pos PGA Pasauran dan Kalianda serta dari CCTV umumnya jelas hingga tertutup kabut. Saat cuaca cerah teramati hembusan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi kolom hembusan sekitar 25 – 3000 meter dari atas puncak G. Anak Krakatau, dengan angin lemah hingga kencang kearah utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat dan barat laut. Teramati Letusan dengan tinggi kolom 50 - 2000 meter dari atas puncak. Kolom abu letusan berwarna putih, kelabu hingga kehitaman dengan dominan arah angin ke tenggara dan selatan. 

Sebaran Abu Vulkanik


Pengamatan Instrumental

Kegempaan Gunung AnakKrakatau selama 1 - 24 April 2022 ditandai dengan terekamnya 21 kali gempa Letusan, 155 kali gempa Hembusan, 14 kali Harmonik, 121 kali gempa Low Frequency, 17 kali gempa Vulkanik Dangkal, 38 kali gempa Vulkanik  Dalam,  danTremor  Menerus  dengan  amplitudo  0.5  - 55  mm  (dominan 50mm) serta terekam 2 kali gempa Tektonik Lokal, 6 kali gempa Tektonik Jauh dan 1 gempa Terasa dengan skala I MMI. Energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai RSAM (real-time seismic amplitude measurement) menunjukkan pola fluktuasi dengan kecenderungan meningkat tajam sejak 15 April 2022.

Pengukuran deformasi dengan menggunakan Tilmeter yang dipasang di Stasiun Tanjung menunjukkan fluktuasi komponen X (tangensial) dan Y (radial). Inflasi pada tubuh G. Anak Krakatau teramati sejak tanggal 18 April 2022 dan sedikit mulai intens teramati sejak tanggal 22 April 2022.

Evaluasi

Aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau saat ini masih dalam periode erupsi menerus dengan perubahan erupsi yang semula dominan abu menerus menjadi tipe strombolian menghasilkan lontaran-lontaran lava pijar pada tanggal 17 April 2022. Dan pada tanggal 23 April 2022 sekitar pukul 12:19 WIB teramati lava mengalir dan masuk ke laut. Hasil estimasi  energi  seismik saat  ini teramati  meningkat  tajam bersamaan dengan membesarnya amplitudo Tremor menerus dan semakin intensnya kejadian erupsi yang menerus. Peningkatan ini diikuti pula dengan hasil pengukuran deformasi yang menunjukkan fluktuasi pola inflasi dan deflasi.

Data emisi SO2  berdasarkan pantauan satelit Sentinel-5 (Tropomi) menunjukkan emisi SO2 mulai teramati pada

-    14 April dengan SO2 sebesar 28,4 ton/hari,

-    15 April 68,4 ton/har

-    17 April semakin meningkat dengan 181,1 ton/hari dan

-    23 April melonjak drastis dengan 9219 ton/hari.

Pantauan SO2 dari magma  ini berkorelasi dengan peningkatan aktivitas erupsi G. Anak Krakatau saat ini.Peningkatan SO2  yang signifikan mengindikasikan adanya suplai  magma  baru  dan  adanya  material  magmatik  yang  keluar  ke  permukaan berupa lontaran material pijar yang diikuti oleh aliran lava.Jumlah SO2 pada periode di atasmencapai 9,2 kilo Ton. Bila dibandingkan saat periode erupsi 2018, yaitu Juni-Agustus 2018 12,4 kilo Ton dan September-Oktober 2018 19,4 kilo Ton. Berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental serta pantauan emisi SO2 bahwa  aktivitas  G.  Anak  Krakatau  ada  kecenderungan  meningkat  dan  belum menunjukkan adanya penurunan aktivitas vulkanik.

PotensiBahaya

Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) menunjukan   hampir seluruh tubuh G. Krakatau yang berdiameter ± 2 Km merupakan kawasan rawan bencana. Berdasarkan data-data visual dan instrumental potensi bahaya dari aktivitas G. Anak 

Krakatau  saat ini adalah lontaran material pijar dalam radius 2km dari pusat erupsi namun kemungkinan lontaran akan menjangkau jarak yang lebih jauh. Sedangkan sebaran abu vulkanik tergantung dari arah dan kecepatan angin dapat menjangkau kawasan yang lebih jauh.

Kesimpulan dan Rekomendasi

1.  Hasil  pemantauan  visual  dan  instrumental  menunjukkan  adanya  kenaikan aktivitas yang semakin signifikan dan tingkat aktivitas G. Anak Kraktau dinaikkan dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) terhitung sejak tanggal 24 April 2022, pukul 18.00 WIB.

2.  Sehubungan dengan tingkat aktivitas G. Anak Krakatau berada pada LevelIII (Siaga), masyarakat / pengunjung / wisatawan / pendaki tidak diperbolehkan mendekati G. Krakatau dalam radius 5 km dari Kawah Aktif.

3. Badan   Geologi   akan   terus   berkordinasi   dengan   Badan   Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)/ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten/ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung/ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lampung Selatan/ Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang/ dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

4.  Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan   mempercayai   isu-isu   tentang   erupsi   G.   Krakatau   yang   akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.

5.  Untuk informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).


Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts