k9fNfc9la6TpAxgmQLSGLRtfzYBM7Q8ABHwNMyzK

Sejarah Geologi Pulau Jawa

Gambar Pembagian Zona di Pulau Jawa Berdasarkan Umur

Pulau Jawa diperkirakan mulai terbentuk lebih dari 60 juta tahun yang lalu (Pra-Tersier). Pada saat itu Pulau Jawa masih menjadi bagian dari sebuah superbenua Pangea.

Susunan batuan dasar yang menjadi basement Pulau Jawa memiliki umur yang berbeda satu dengan lainnya. Di Jawa bagian barat diperkirakan mulai terbentuk pada akhir Zaman Kapur dan menjadi bagian dari Paparan Sunda, sementara Jawa bagian timur berasal dari pecahan benua Australia (East Java Microcontinent). Bagian timur diperkirakan mulai bertabrakan dengan bagian barat sekitar 100 – 70 juta tahun lalu hingga membentuk bentukan awal Pulau Jawa.

Seiring berjalannya waktu, proses geologi berlangsung tanpa henti dan menyusun beragam wujud roman muka bumi. Pengendapan pertama sendiri diperkirakan terjadi antara 54 hingga 36 juta tahun lalu (Eosen) akibat adanya peregangan lempeng. Tersingkapnya konglomerat, batugamping, batupasir, serta batupara menunjukan ciri pengendapan sungai – laut dangkal pada saat itu.

Kemudian Pulau Jawa terkena tekanan kompresif dari arah selatan yang menyebabkan lempeng samudera Indo-Australia yang bergerak ke arah utara menabrak lempeng benua Eurasia dari sisi selatan.

Lempeng samudera yang memiliki masa jenis yang lebih tinggi mengalami penunjaman dan menghasilkan jalur subduksi. Karena adanya subduksi terbentuk palung lait, pegunungan baru, serta aktifitas volkanik. Terjadi juga pelelehan material lempeng samudera Indo-Australia yang menjadi magma dan menciptakan jalur vulkanis yang sejajar dengan poros panjang Pulau Jawa.

Gambar Pemodelan Terbentuknya Pulau Jawa

Setelah terbentuk gugusan api purba sebagai jalur volkanik, dari kala Oligosen Akhir – Miosen Awal terjadi rangkaian peristiwa vulkanisme yang teramat dahsyat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya penemuan singkapan piroklastik dan sedimen vulkanik. Dari singkapan tersebut setidaknya dikenali 2 hasil gunung api purba yaitu Semilir dan Nglanggeran.

Kala Miosen Tengah hingga Pliosen Akhir, kegiatan magmatisme mulai berkurang dan terjadi pengendapan secara menerus hingga sekarang.

Pada kala Miosen Tengah juga mulai terjadi pelandaian kemiringan penunjaman lempeng samudera Indo-Australia, sehingga proses pelelehan yang menghasilkan magma ikut bergeser ke utara. Proses ini berlanjut hingga Pleistosen dan masih berlanjut hingga sekarang. Pergeseran jalur vulkanik tersebut menonaktifkan semua gunung api purba karena suplai magma hasil pelelehan di bawah permukaan bumi bergeser ke arah utara.

Gambar Penjelasan Matinya Gunung Api Karena Pergeseran Subduksi

Setelahnya terjadi pengendapan delta, sungai, dan laut dangkal diatas Pulau Jawa. Penurunan muka air laut terjadi secara perlahan. Pada saat yang sama lempeng samudera Indo-Australia terus bergerak menekan Lempeng Eurasia yang menyebabkan orogenesa dan pengangkatan lainnya.

Belajar Materi Geografi ini juga

Related Posts